Ipin dan Upin ; Sebuah Ironi

18 02 2010

Pada saat hubungan politik RI-Malaysia memanas, “Ipin & Upin” secara ajaib masuk dan diterima masyarakat kita. Dan kini dia sudah mengalahkan Batman, Superman dll … Malaysia yang selalu kita hujat sebagai pencuri ternyata telah menohok kita dengan sangat keras, bukan dengan umpatan balik tapi dengan sebuah KARYA. Kita pun terdiam, tercengang dan, tentu saja, prihatin.

Lebih memprihatinkan lagi karena ternyata kita tidak hanya terus dibombandir secara sporadis dari produk budaya luar tapi juga dari dalam sistem kita sendiri. Tontonan sinetron yang menjual mimpi dan harapan kosong (yang didominasi oleh wajah-wajah bule), berita kekerasan yang disiarkan pada jam-jam berkumpulnya keluarga dan program-program televisi yang tidak memiliki misi pendidikan sama sekali itu secara terus menerus disuntikan pada kepala masyarakat kita. Dan masyarakat kita, yang kering oleh harapan, itu pun terlena, terhipnotis, tertidur dan, tanpa disadari, terjajah.

Dan kita pun merayakan hari kemerdekaan kita setiap tahun – sering kali dengan gegap gempita – sebuah seremoni kosong.

Kita tidak tahu apa yang mereka, para pendiri bangsa, rasakan. Kuburan mereka tetap dingin. Mereka tidak bangkit dari kubur dan berteriak “merdeka!!” dan angkat senjata lagi. Mereka tak lagi bisa bernyanyi “Indonesia Raya” atau “Jembatan Merah” saat ini. Mereka tetap tertidur dalam tenang karena mereka percaya bahwa generasi baru akan datang; generasi yang lebih kuat, pintar dan berbudaya … generasi kita. Mereka percaya kita bisa berkarya untuk Indonesia raya.

Bisakah kita? Beberapa dari kita menjawab “Bisa”, sebagian menggelengkan kepala dan sebagian yang lain terdiam karena dalam hati mereka tahu, mereka telah melumuri Ibu pertiwi dengan lumpur malu. Kita saling menuding dan menyakiti, dan kita stabil dalam keadaan tidak stabil ini bertahun-tahun lamanya.

Dulu Malaysia belajar mengaspal jalan tol dari kita. India belajar kedokteran dari kita, sekarang mereka menjadi kekuatan masa depan di bidang Kedokteran dan IT. Dan Malaysia? Mereka cukup santun memberi kita hadiah yang bernama “Ipin dan Upin”.

Selesai.





Mimpi

15 02 2010

Aku bermimpi; aku melihatmu. Di puncak tertinggi sebuah menara kita berada, bersembunyi dan mungkin sedikit bercinta. Kita tak mendengar apapun kecuali deru angin. Kita tak melihat apapun kecuali awan. Sebuah keterasingan yang purba, dingin dan sunyi.

Dan aku melihatmu, berbaring di sisiku. Aksara cahaya matahari sore menggaris di setiap lekuk tubuhmu yang tak berbaju itu. Kau terdiam seperti aku yang juga terdiam. Bukan suara deru angin awang-awang yang terdengar, tapi jauh ke dalam diri kita, kita mendengar detak jantung masing-masing. Detak yang semakin cepat juga semakin keras, ketakutan yang merasuk hingga sumsum tulang kita.

Lirih aku bertanya, “Bila telah ada 100 bahaya maka telah kurasakan 100 rasa takut. Apa lagi yang kutakutkan kini?”

Sekilas terdengar kau menghela nafas, berat. Aku tahu apa yang ada di dalam pikiranmu. Nun jauh di sana, di ujung batas negeri, barigade pasukan yang berbaris seperti sebuah defile merengsek masuk. Suara derap kaki mereka lah yang menggetarkan jantungku. Mereka datang bukan untuk air dan tanah. Mereka datang dengan racun dan dendam untuk sebuah harga diri buta; sebuah tahta yang terusik.

Ya, dalam mimpiku itu kurasakan angin yang masuk melalui jendela membawa berita duka. Suara tangis mereka yang seperti koor membuat suasana semakin muram. Mereka terus menangisi kami hingga tak tersisa waktu untuk bercerita. Seperti anak perawan yang kehilangan jejaka, mereka bersimpuh. Air mata mereka yang seperti nira hitam membuatku kembali bertanya, ”apa sebenarnya yang kutakutkan?”

”Tak ada yang perlu kau takutkan,” bisikmu di telingaku. Suaramu setengah merintih bercampur dengan mantera. Kulihat kau menidurkanku. Kau menutup kelopak mataku dan meniupkan mimpi-mimpi ke dalamnya. Dan kau tutup juga telingaku, karena kau tak ingin aku tahu sesuatu yang kau tahu; mereka tengah mendekat. Mereka datang untuk membawamu pergi.

Sejenak kau menatap wajahku dengan tatapan penuh keharuan dan kerinduan. Dengan langkah berat kau beranjak meninggalkanku. Para perawan angin sontak menjerit menahanmu pergi. Kau menempelkan jari telunjuk di bibirmu. Jari itu bergetar dirajam emosi. Mereka, para perawan angin itu, mendongak ke atas dengan suara bergetar-menghujat para dewa. Tapi, bahkan para dewa pun tak kuasa menahan tekadmu. Kau yang hanya manusia dan diciptakan tidak abadi akhirnya melakukan sesuatu yang mereka, para kaum abadi, tak mampu lakukan. Sesuatu yang tidak cukup kuat dibanding kuasa langit namun jauh lebih mendasar. Sebuah kekuatan yang ada di dasar hati seseorang yang tengah jatuh cinta – sebuah pengorbanan.

Di atas jendela itu kau berdiri. Wajahmu sayu dan sinar kehidupan di matamu lemah meredup. Sementara di kaki menara, ribuan pasukan berkuda bergerak seperti air bah, menggerus semua yang ada. Pilar-pilar menara tergetar oleh derap ladam kuda mereka. Sejenak kau termenung, menikmati setiap detik terakhir kebersamaan kita. Dan kau berharap semua itu tidak terjadi…

Aku terbangun saat hatiku mendengar hatimu merintih lirih setelah lelah memberontak. Kau yang telah meniupkan mimpi dalam tidurku dan menutup telingaku ternyata tak mampu menutup hatiku. Maka saat hatimu menangis, bahkan dalam keadaan paruh delusi pun, hatiku menyadarinya. Dan kudapati kau di atas jendela. Ada sejenak waktu kau menoleh padaku. Matamu berkata, ’… … ’

Lalu kau menjatuhkan diri.

Aku berteriak, namun apalah suara membawamu kembali. Tubuhmu melayang seperti burung alap-alap sebelum akhirnya terbenam dalam lautan pasukan berkuda itu. Mereka yang didera haus berkepanjangan segera menangkapmu.

Mereka membawamu pergi jauh. Jauh dari semua yang telah kita bangun dengan tangan-tangan kasar kita. Jauh dari mimpi dan semua cita-cita kosong menjelang tidur; tentang dunia yang berbatas rumah para pertapa, tentang gurun Najaf dan tragedi Karbala dan tentang dunia di mana tak ada para pencuri. Mereka membawamu dan kutahu, sebagaimana kau tahu, kita tak akan pernah bertemu lagi. Kelak pada suatu saat kita akan saling mengingat namun tak lebih sebagai sebuah kenangan. Kau tak akan pernah kembali. Dunia seakan berhenti berputar dan angin pun enggan untuk bertiup. Pada saat itu waktu pun berhenti untuk berduka.

Kini kutahu apa yang ada di matamu. Sebuah kalimat yang tak kuasa kau ucapkan. Sebuah kalimat yang kau sembunyikan dalam matra-mantramu. Sebuah kalimat yang menjawab ketakutanku. Di atas menara yang sunyi sendiri itu akhirnya kusadari bahwa apa yang kutakutkan adalah “sebuah selamat tinggal yang kekal.”

Dan pagi itu aku terbangun dengan nafas seperti dipacu kusir gila. Haus mencekik tenggorokanku dan memaksaku untuk bangun saat kusadari sakit yang begitu kuat meninju kepalaku. Kudapati aku masih di kamar yang sama. Ya, kamar yang sama. Aku bisa mengenalinya dari aroma pengap menyengat yang berasal dari gantungan baju yang telah beberapa minggu tak kucuci. Sinar matahari pagi merayap mukaku dan menyadarkan bahwa dunia belum berakhir. Itu adalah hari yang sama dengan hari-hari sebelumnya. Lalu kurasakan hawa dingin meniup lembut wajahku. Ah, aku tahu siapa dia. Perawan angin dari jaman purba itu kembali datang. Dengan mata bengkak setelah lelah menangis ia tidur dan memelukku dari belakang. Pelukan itu dingin dan dipenuhi rasa kesunyian. Pelukan yang telah lama kumiliki. Kututup mata ini, sekedar untuk bersembunyi dari dunia luar dan kusadari kemudian bahwa tak ada yang berubah . Tidak ada, kecuali satu; pada hari itu kusadari kau bukan milikku lagi…





Tentang Hiroh, Perawan ke Tujuh – Chapter III

17 10 2009

Kembali ke Tentang Hiroh, Perawan ke Tujuh – Chapter II

Tentu saja aku tak pernah jujur pada Hiroh yang sebenarnya. Bahwa dia adalah perawan ke tujuh yang pernah aku ambil. Bila hal itu aku lakukan maka aku akan mempermalukan dunia para pemburu wanita. Pada saat itu aku memandang Hiroh memang hanya pelampiasan nafsu biologisku saja. Dan tampaknya dia juga menikmati pelayanan yang aku berikan padanya. Ya, aku sangat mengerti. Dari umurnya yang masih muda dia memang sedang dalam kondisi paling siap untuk bereproduksi. Seluruh sistem tubuhnya memang dirancang untuk tujuan tersebut. Bahkan sering kali aku yang kualahan menghadapinya.  Aku selalu berusaha mengimbanginya sekuatku. Aku juga harus pintar-pintar mengatur waktu dan energiku karena pada malam harinya tak jarang Siska (tentang Siska akan aku ceritakan pada sesi lainnya) meminta untuk ketemuan yang artinya harus bercinta dengannya juga.  Sepulang dari rumah Hiroh yang sudah cukup malam, aku hanya punya sedikit waktu untuk menyegarkan diri untuk bertempuran berikutnya.

Namun semenjak aku berhasil mendapatkan Hiroh sepenuhnya, aku merasakan alam dalam hatiku berubah. Seakan-akan aku diliputi  oleh kebisuan yang teramat pekat dan hari-hari berubah menjadi kelabu. Ada sebuah kesedihan yang mulai muncul. Sebagai orang yang suka menganalisa keadaan, aku segera terkesiap dengan perubahan ini. Tanda ini apa maksudnya? Dan jawabanku tertuju padanya. Sering kali aku melihat Hiroh dalam-dalam. Aku tahu, sesuatu yang Hiroh tidak tahu, aku tengah memasuki masa kritis.

blog_hiroh 4Masa kritis adalah sebuah masa di mana kita, siapapun dari kita, tengah dipertanyakan kembali “hendak kemanakah kita melaju?” dan untuk menjawab pertanyaan itu maka aku perlu melihat ke dalam diriku sendiri “siapakah diriku?” artinya ini mengenai jati diriku yang sebenarnya. Aku mendekati Hiroh adalah untuk kepuasan nafsuku saja dan telah kudapatkan itu. Aturannya adalah bahwa aku harus secepatnya membuat rencana untuk meninggalkannya. Pertanyaan yang muncul seharusnya “apa yang harus aku katakan padanya untuk meninggalkannya?” Alih-alih mendapat pertanyaan itu, yang muncul di kepalaku justru pertanyaan lain yang cukup mengejutkan, “kenapa aku masih di sini? Kenapa aku tak segera beranjak pergi?” dan aku segera menyadari jawabannya.

Hari-hari pun berlalu. Selalu saja, pada malah hari, aku sempatkan diriku untuk datang ke pesantren. Aku putuskan untuk datang pada malam hari saja, melewati jam malam. Keuntungan bagi keluarga Hiroh adalah tidak menarik perhatian para santri yang lain. Sementara keuntunganku adalah bahwa kedatanganku pada malam hari tidak menarik perhatian lingkungan. Simbiosis mutualisme. Namun alasan paling mendasar adalah bahwa sebisa mungkin orang tua ku tidak mengetahui hubungan kami. Karena aku yakin mereka tidak akan menyetujuinya. Hiroh berasalah dari keluarga muslim yang taat, sementara keluargaku lebih liberal. Pendidikan terakhir Hiroh hanyalah MTs (setara SMP) sementara keluargaku mengisyaratkan untuk mencari yang paling tidak S1. Aku punya pekerjaan yang bagus dengan jenjang karir yang cerah, sementara ketrampilan Hiroh adalah di bidang keagamaan yang kita tahu cukup sulit untuk mencari makan pada masa-masa sekarang. Dan kutemui diriku terjebak dalam kondisi yang sangat dilematis. Apakah aku harus memilih mengikuti orang tua atau Hiroh padahal benih-benih cinta mulai bersemi di dalam diriku padanya. Baca entri selengkapnya »





Tentang Hiroh, Perawan ke Tujuh – Chapter II

17 10 2009

… Kembali ke Tentang Hiroh, Perawan ke Tujuh – Chapter I

Dan tinggal kami berdua, aku dan Hiroh, di kamar itu. Keheranan dan kebingunganku segera lenyap saat Hiroh kembali menggenggam tanganku. Kulihat dia tersenyum bahagia sekali. Dia tidak tahu kalau senyum itu memicu reaksi kimia di dalam sistem tubuhku; libido! “Apa Mas benar-benar mau jadi suamiku?” Hiroh bertanya. Lalu aku jawab, dengan otak dikendalikan libido, sekenanya, “aku ingin siapapun yang jadi istriku harus masih perawan tulen! Mana mungkin aku tahu kau masih perawan atau bukan kalau tidak dites dulu.” Hiroh mendelik kaget, “tidak ! tidak! Aku hanya akan menyerahkan keperawananku dengan cara yang halal!” Lalu terjadilah adu argument dengannya. Cukup lama dan rumit, tapi aku yang dulunya aktif sebagai remaja mesjid tentu saja dapat dengan mudah mematahkan logika-logikanya. Plus lagi aku sudah banyak makan asam garam sebagai dalam dunia perburuan cewek seperti itu. Gampang saja aku meng-infiltrasi keyakinanku di atas keyakinan miliknya. Begitu dasar logika seorang cewek sudah kudapat, maka sesungguhnya aku telah mendapatkan cewek itu seutuhnya. Hanya masalah waktu saja sampai aku dapat menerobos bunga miliknya.

K112625TITIAN 3Benar saja, di akhir perdebatan halus kami, akhirnya Hiroh menggandeng tanganku dan tak dinyana-nyana mengarahkannya ke payudaranya! Got you! Aku bersorak dalam hati. Lalu dengan halus aku meremasnya. Payudaranya memang masih keras dan sangat nikmat diremas seperti itu. Aku bisa merasakan bahwa berlahan Hirohpun mulai bisa menikmatinya namun aktifitas itu harus aku lakukan terputus-putus karena pintu kamar masih terbuka dan hanya dititipi selembar tirai saja. Kegiatan yang terpututs-putus itu ternyata membuat Hiroh gemas. Maka ia berdiri dan…ehem, menutup dan menguncinya! Ibarat traffic light, tidak ada lampu kuning atau merah; hijau semuanya!! Aku mulai masuk ke dalam bra miliknya dan mulai meremasnya dengan tangan kosong. Tidak ingat benar, tapi sepertinya malam itu juga Hiroh dengan berani menaikkan bajunya dan melepaskan bra di hadapanku. Payudara yang tak pernah tersentuh sama sekali itu malam itu adalah milikku sepenuhnya!

Waktu pun berjalan. Setiap kali kami bertemu aku selalu langsung dipersilahkan masuk ke dalam kamar pribadi Hiroh. Tunggulah beberapa saat sampai minuman disuguhkan lalu Pak Kyai masuk untuk bersalaman. Beberapa menit kemudian Istrinya membukat tirai dan tersenyum sambil mempersilahkanku. Terakhir Hiroh akan segera menutup dan menguncinya rapat-rapat. Selalu berjalan dengan pola seperti itu. Bila keadaan sudah terpenuhi seperti itu maka privasi adalah milik kami berdua. Dengan halus namun rakus aku menjelajahi tubuhnya. Seperti Colombus yang menjelajahi samudra untuk menemukan dunia baru, aku pun menjelajahi tiap jengkal kulitnya untuk menemukan sumber dunia baru yang hitam dan belum terjamah. Bila dulu Coombus masih belum tahu pasti di mana dunia baru itu, aku malah sudah tahu persis ke mana tujuanku berlabuh. Namun betapa kagetnya aku saat aku sampai du dunia baruku yang awalnya kukira ditumbuhi belantara lebat dan hitam, yang kudapati adalah sebuah dunia baru yang gundul, merekah merah dan beraroma harum sabun! Dan aku pun terjatuh dalam kegilaan. Akal sehatku pergi entah kemana. Malam ini kuberi Hiroh sesuatu yang awalnya ia pikir jauh berada di atas awan; kuberi dia surga. Seperti pasukan pemandu sebelum datangnya pasukan inti, lidahku menjelejahi tiap jengkal dunia baru itu sebelum lingga miliku.

Beberapa pertemuan berikutnya kuberi ia pelayanan yang sama dan terus meningkat. Kuajari dia teknik bercinta hingga pelan namun pasti Hiroh pun mulai menjadi ahli. Ia tahu titik-titik kesukaanku. Lidahnya menjalar dari puting dadaku hingga penisku. Di sana ia tak ragu lagi untuk membenamkan penisku ke dalam mulutnya. Dengan gerakan halus dan begitu mengesankan ia memberi pelayanan oral yang sangat hebat. Ia menuruti semua keinginanku hingga saat aku minta agar aku ejekulasi di mulutnya pun ia tak menolaknya. Kini ia tak sungkan lagi untuk membuka bajuku juga bajunya sendiri. Ia pun tak sungkan lagi memintaku untuk melakukan apa yang ia inginkan aku lakukan terhadap bagian-bagian tubuhnya. Seringkali saat dalam keadaan santai dan tengah bercanda, ia tertawa-tawa sambil mencubit penisku. Aku pun membalas dengan meremas payudaranya dan bagian vaginanya. Baca entri selengkapnya »





Tentang Hiroh, Perawan Ke Tujuh – Chapter I

17 10 2009

blog_hiroh 5Tulisan yang akan kau baca di bawah ini akan menyangkut sebuah identitas agama namun aku tekankan bahwa ini sama sekali bukan penghinaan terhadap agama. Agama tersebut sangat baik dan merupakan Rahmat Alam Semesta namun kami, para pelaku dan penganutnyalah yang bersalah. Cerita ini adalah  yang benar-benar terjadi dan aku menceritakan ini bukan untuk bualan semata. Semua penilaian akan pengalamanku ini aku serahkan padamu semua karena aku tak lagi peduli.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Berhati-hatilah dengan apa yang kau inginkan karena itu sangat mungkin akan terjadi. Mungkin itu adalah pelajaran yang paling bisa kupetik dari petualangan bercintaku yang satu ini. Ini adalah kisah nyata tentang perjalanan hidupku. Tidak ada kebohongan di dalamnya meskipun identitas dari semua pelakunya aku sembunyikan.

Dulu, beberapa tahun yang lalu, saat aku masih begitu bangga dengan koleksi wanita-wanita hasil buruan libidoku, aku merasa ada yang kurang di sana. Di antara para wanita itu tidak ada satu pun yang bisa mewakili pencapaian tertinggiku. Perburuan libido adalah sebuah dosa dan untuk mendapatkan pencapaian tertinggi maka aku perlu seseorang yang perawan murni yang benar-benar suci. Aku tidak ingat benar di mana aku menulis keinginanku itu tapi aku yakin aku pernah menulisnya. Di kini, di waktu yang tak terlalu jauh dari sekarang, keinginan itu terwujud.

Namanya adalah Hiroh. Seorang perawan murni, baru berumur 23 tahun dan cantik luar biasa. Dan dia adalah seorang santri tulen. Anak seorang kyai terkenal di daerahku. Dia dididik di lingkungan muslim yang ketat dan taat. Keluarganya tak pernah memasukan dia ke pendidikan negeri dan lebih memilih Madrasah yang bernuansa Islam. Selama hidupnya ia habiskan di pondok pesantren termasuk juga pondok pesantren milik ayahnya. Dalam sehari semalam shalatnya bisa lebih dari empat puluh kali. Puasa, wirid dan mengaji adalah makanan sehari-harinya. Bahkan menyentuh kulit seorang yang bukan muhrimnya adalah hal terlarang baginya. Namun toh, ia takluk di hadapanku. Aku adalah lelaki yang mengambil keprawanannya. Lebih buruk lagi, ia adalah gadis ke tujuh yang keperawanannya aku ambil …

Pertemuan kami diawali saat kami bertemu di toko milik keluargaku. Saat itu dia hendak membelikan sepatu baru untuk adiknya. Karena pada saat itu pegawaiku tengah tidak berada di tempat maka terpaksa aku yang melayani. Saat itulah aku melihat sosoknya, sosok yang begitu indah; cantik dalam balutan jilbab yang rapi. Matanya bening dengan garis mata yang hitam dan bibirnya merah sempurna seperti buah cherry. Wajahnya memancarkan sinar yang begitu anggun. Ada sebuah kedamaian yang menyelimuti hatiku saat aku melihat sinar wajah itu. Dan pada saat mata kami bertemu aku tahu ada ruang di dalam hatinya khusus buatku. Baca entri selengkapnya »





Tentang Siska

17 10 2009

Tulisan yang akan kau baca ini adalah salah satu babak kehidupan dalam diriku. Identitas para pelaku sengaja aku sembunyikan / samarkan agar tidak kehilangan nilai objektifitasnya. Cerita ini adalah cerita nyata yang benar-benar terjadi dan aku menceritakan ini bukan untuk bualan semata. Semua penilaian akan pengalamanku ini aku serahkan padamu semua karena aku tak lagi peduli.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

blog-siskaBaru saja aku menerima sms dari, sebut saja, Siska. Dia adalah seorang ibu rumah tangga yang ditinggal suaminya bekerja di luar kota. Dia cantik dan memiliki tubuh yang sintal. Sebenarnya dia masih terbilang cukup muda meskipun telah memiliki tiga anak. Anak pertama bahkan sudah kelas tiga SMA. Dia memang menikah di usia yang cukup muda. Kalau tidak salah tujuh belas atau delapan belas tahun. Aku tidak ingat pasti.

Dia adalah selingkuhanku. Kami telah berhubungan mungkin lebih dari satu tahun terakhir ini. Mungkin karena ditinggal suaminya cukup lama ( Suaminya bekerja di luar kota ) hingga ia melakukannya; perselingkuhan denganku ini. Dengan kondisinya yang aku ceritakan di atas, tidak satu atau dua orang yang mengajaknya selingkuh. Bahkan aku dengar dari dia sendiri, salah satu om ku juga salah satunya namun ia kukuh menolaknya. Pada dasarnya Siska adalah wanita yang sangat soleh dan taat beragama. Perselingkuhan baginya adalah sebuah aib dan pantangan besar. Namun entah mengapa ia luluh di hadapanku.

Pada saat pertama bertemu pun aku bahkan hampir tidak melihatnya. Bagiku ia tidaklah penting, hanya satu di anata banyak orang lain, itu saja. Namun pada malam itu, malam pernikahan kakakku, aku melihatnya dengan mata yang berbeda. Siska yang tengah membantu masak di tempatku di mataku terlihat begitu menarik dengan tonjolan-tonjolan tubuhnya yang seakan melambai-lambai padaku untuk menikmatinya. Dan aku bergerak, perburuan pun dimulai. Aku tidak membutuhkan waktu lama untuk menaklukkannya. Bahkan terbilang cukup mudah. Tidak ada kesan sulit sama sekali.

Sms-sms dan rayuan gombal pun aku kirimkan hingga pada suatu malam, hampir pukul dua belas malam, aku memberanikan diri untuk ketemuan. Gayung bersambut, ia meng-iya-kannya. Dengan langkah mengendap-endap aku berjalan ke rumahnya yang memang hanya berjarak beberapa ratus meter saja. Suasana tempat kami memang sepi bila malam tiba. Aku ingat betul suara detak jantungku yang hampir meledak saat itu karena diliputi perasaan was-was namun juga kegembiraan yang teramat sangat. Tapi toh semuanya berjalan aman. Aku sampai juga di rumahnya. Suasana rumah Siska pun sepi, anak-anaknya sudah tidur. Kami berbincang-bincang dengan suara berbisik-bisik sebagai formalitas saja karena tak sampai lima menit kemudian kami mulai berciuman. Siska membalas ciumanku dengan sangat antusias. Lampu telah menjadi hijau, pikirku, aku pun menariknya ke salah satu kamar yang kosong. Siska menurut saja. Kemudian kami melanjutkan aktifitas kami hanya saja kini aku mulai berani memasukan tubuhku ke dalam baju dan celananya. Siska menurut saja, bahkan saat aku buka baju dan bra nya pun ia tak melawan. Hanya saat aku hendak mencopot celana dan CD nya ia sedikit menolak. Bukan masalah besar, dengan sedikit waktu terulur dan menambah kualitas cumbuanku aku pun berhasil menelanjanginya bulat. Aku tak bisa melihat tubuhnya dengan jelas karena lampu ruangan memang dimatikan. Tapi tak apalah, orang barat bilang we don’t need a weatherman to know where the wind blows, sebagaimana kita tak membutuhkan ahli cuaca untuk menentukan ke mana arah angin pergi begitu pula aku tak membutuhkan cahaya untuk menentukan arah tembakkan peluruku ini. Lagi pula, Siska bukanlah wanita pertama yang aku tiduri. Ia nomer berapa? Aku malah tidak ingat sama sekali.

Baca entri selengkapnya »








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.