Tentang Hiroh, Perawan ke Tujuh – Chapter II

17 10 2009

… Kembali ke Tentang Hiroh, Perawan ke Tujuh – Chapter I

Dan tinggal kami berdua, aku dan Hiroh, di kamar itu. Keheranan dan kebingunganku segera lenyap saat Hiroh kembali menggenggam tanganku. Kulihat dia tersenyum bahagia sekali. Dia tidak tahu kalau senyum itu memicu reaksi kimia di dalam sistem tubuhku; libido! “Apa Mas benar-benar mau jadi suamiku?” Hiroh bertanya. Lalu aku jawab, dengan otak dikendalikan libido, sekenanya, “aku ingin siapapun yang jadi istriku harus masih perawan tulen! Mana mungkin aku tahu kau masih perawan atau bukan kalau tidak dites dulu.” Hiroh mendelik kaget, “tidak ! tidak! Aku hanya akan menyerahkan keperawananku dengan cara yang halal!” Lalu terjadilah adu argument dengannya. Cukup lama dan rumit, tapi aku yang dulunya aktif sebagai remaja mesjid tentu saja dapat dengan mudah mematahkan logika-logikanya. Plus lagi aku sudah banyak makan asam garam sebagai dalam dunia perburuan cewek seperti itu. Gampang saja aku meng-infiltrasi keyakinanku di atas keyakinan miliknya. Begitu dasar logika seorang cewek sudah kudapat, maka sesungguhnya aku telah mendapatkan cewek itu seutuhnya. Hanya masalah waktu saja sampai aku dapat menerobos bunga miliknya.

K112625TITIAN 3Benar saja, di akhir perdebatan halus kami, akhirnya Hiroh menggandeng tanganku dan tak dinyana-nyana mengarahkannya ke payudaranya! Got you! Aku bersorak dalam hati. Lalu dengan halus aku meremasnya. Payudaranya memang masih keras dan sangat nikmat diremas seperti itu. Aku bisa merasakan bahwa berlahan Hirohpun mulai bisa menikmatinya namun aktifitas itu harus aku lakukan terputus-putus karena pintu kamar masih terbuka dan hanya dititipi selembar tirai saja. Kegiatan yang terpututs-putus itu ternyata membuat Hiroh gemas. Maka ia berdiri dan…ehem, menutup dan menguncinya! Ibarat traffic light, tidak ada lampu kuning atau merah; hijau semuanya!! Aku mulai masuk ke dalam bra miliknya dan mulai meremasnya dengan tangan kosong. Tidak ingat benar, tapi sepertinya malam itu juga Hiroh dengan berani menaikkan bajunya dan melepaskan bra di hadapanku. Payudara yang tak pernah tersentuh sama sekali itu malam itu adalah milikku sepenuhnya!

Waktu pun berjalan. Setiap kali kami bertemu aku selalu langsung dipersilahkan masuk ke dalam kamar pribadi Hiroh. Tunggulah beberapa saat sampai minuman disuguhkan lalu Pak Kyai masuk untuk bersalaman. Beberapa menit kemudian Istrinya membukat tirai dan tersenyum sambil mempersilahkanku. Terakhir Hiroh akan segera menutup dan menguncinya rapat-rapat. Selalu berjalan dengan pola seperti itu. Bila keadaan sudah terpenuhi seperti itu maka privasi adalah milik kami berdua. Dengan halus namun rakus aku menjelajahi tubuhnya. Seperti Colombus yang menjelajahi samudra untuk menemukan dunia baru, aku pun menjelajahi tiap jengkal kulitnya untuk menemukan sumber dunia baru yang hitam dan belum terjamah. Bila dulu Coombus masih belum tahu pasti di mana dunia baru itu, aku malah sudah tahu persis ke mana tujuanku berlabuh. Namun betapa kagetnya aku saat aku sampai du dunia baruku yang awalnya kukira ditumbuhi belantara lebat dan hitam, yang kudapati adalah sebuah dunia baru yang gundul, merekah merah dan beraroma harum sabun! Dan aku pun terjatuh dalam kegilaan. Akal sehatku pergi entah kemana. Malam ini kuberi Hiroh sesuatu yang awalnya ia pikir jauh berada di atas awan; kuberi dia surga. Seperti pasukan pemandu sebelum datangnya pasukan inti, lidahku menjelejahi tiap jengkal dunia baru itu sebelum lingga miliku.

Beberapa pertemuan berikutnya kuberi ia pelayanan yang sama dan terus meningkat. Kuajari dia teknik bercinta hingga pelan namun pasti Hiroh pun mulai menjadi ahli. Ia tahu titik-titik kesukaanku. Lidahnya menjalar dari puting dadaku hingga penisku. Di sana ia tak ragu lagi untuk membenamkan penisku ke dalam mulutnya. Dengan gerakan halus dan begitu mengesankan ia memberi pelayanan oral yang sangat hebat. Ia menuruti semua keinginanku hingga saat aku minta agar aku ejekulasi di mulutnya pun ia tak menolaknya. Kini ia tak sungkan lagi untuk membuka bajuku juga bajunya sendiri. Ia pun tak sungkan lagi memintaku untuk melakukan apa yang ia inginkan aku lakukan terhadap bagian-bagian tubuhnya. Seringkali saat dalam keadaan santai dan tengah bercanda, ia tertawa-tawa sambil mencubit penisku. Aku pun membalas dengan meremas payudaranya dan bagian vaginanya.

Aku merasa sudah saatnya masuk ke level berikutnya. Aku mulai hendak memasukkan linggaku. Awalnya ia meberontak karena takut hamil. Namun sekali lagi kupatahkan logika itu. Setelah ku ulur waktuku dan terus memberinya kenikmatan sambung raga itu, akhirnya ia pun luluh. Inilah kekuatan terbesarku yang paling ditakuti oleh semua wanita-wanita yang kutaklukan; kesabaranku. Dengan sabar dan terus menerus, berlahan-lahan Hiroh keluar dari dunianya dan masuk ke dalam duniaku. Aku mulai dengan halus mencoba memasukan lingga milikku. Hiroh pun menyerah dan pasrah. Satu-satunya penghalangku hanya rasa sakit yang ia derita. Namun aku mengerti, aku pun tidak memaksanya.

Bulan Ramadhan pun tiba. Hiroh menyarankan aku datang setelah waktu shalat Tarawih selesai. Itu yang berarti melanggar jam malam yang ditentukan di pesantrennya. Diam-diam aku mengeluh. Perasaan menyesal mulai masuk ke dalam hatiku, betapa aku telah menariknya, Hiroh yang anggun dan suci ke dalam duniaku yang gelisah dan panas. Namun aku segera menampik perasaan itu. Hanya tinggal beberapa langkah lagi sampai aku mencapai tujuanku. Fokus!

Selama bulan Ramadhan itu kami pun terus melakukan hubungan bercinta tersebut. Selama itu pula aku terus mencoba melengkapi persetubuhan kami. Hingga pada suatu hari, Hiroh mengirim pesan agar aku datang sore saja saat Shalat Tarawih masih berlangsung. Meskipun agak ragu tapi aku menurut saja. Sesampainya di pesantren, aku harus menunggu para makmum melakukan sujud dan secepat kilat aku masuk ke dalam kamar Hiroh (Kamar Hiroh berada persis di samping aula mengaji para santri yang juga digunakan untuk shalat berjamaah ). Lalu kami pun mulai bercinta lagi dan kali ini Hiroh sepertinya sudah siap. Maka dengan mantap aku masukkan penisku ke dalam rongga kewanitaanya. Hiroh berteriak tertahan dan secara reflek ia menjauh namun aku tahan. Aku peluk dia dalam-dalam dan menyalurkan rasa sayang melaluinya. Di dekat telingaku Hiroh membaca ayat-ayat suci yang ia percaya bisa melindunginya dari kekuatan jahat. Lama-lama Hiroh pun mulai tenang. Kemudian, dengan lembut dan pelan, aku mengulanginya lagi…dan lagi…dan lagi.

Di sela-sela gumam para santri yang tengah Shalat Tarawih di luar kamar, malam itu Hiroh jadi milikku seutuhnya…

Bersambung ke Tentang Hiroh, Perawan ke Tujuh – chapter III


Tindakan

Information

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.