Tentang Hiroh, Perawan ke Tujuh – Chapter III

17 10 2009

Kembali ke Tentang Hiroh, Perawan ke Tujuh – Chapter II

Tentu saja aku tak pernah jujur pada Hiroh yang sebenarnya. Bahwa dia adalah perawan ke tujuh yang pernah aku ambil. Bila hal itu aku lakukan maka aku akan mempermalukan dunia para pemburu wanita. Pada saat itu aku memandang Hiroh memang hanya pelampiasan nafsu biologisku saja. Dan tampaknya dia juga menikmati pelayanan yang aku berikan padanya. Ya, aku sangat mengerti. Dari umurnya yang masih muda dia memang sedang dalam kondisi paling siap untuk bereproduksi. Seluruh sistem tubuhnya memang dirancang untuk tujuan tersebut. Bahkan sering kali aku yang kualahan menghadapinya.  Aku selalu berusaha mengimbanginya sekuatku. Aku juga harus pintar-pintar mengatur waktu dan energiku karena pada malam harinya tak jarang Siska (tentang Siska akan aku ceritakan pada sesi lainnya) meminta untuk ketemuan yang artinya harus bercinta dengannya juga.  Sepulang dari rumah Hiroh yang sudah cukup malam, aku hanya punya sedikit waktu untuk menyegarkan diri untuk bertempuran berikutnya.

Namun semenjak aku berhasil mendapatkan Hiroh sepenuhnya, aku merasakan alam dalam hatiku berubah. Seakan-akan aku diliputi  oleh kebisuan yang teramat pekat dan hari-hari berubah menjadi kelabu. Ada sebuah kesedihan yang mulai muncul. Sebagai orang yang suka menganalisa keadaan, aku segera terkesiap dengan perubahan ini. Tanda ini apa maksudnya? Dan jawabanku tertuju padanya. Sering kali aku melihat Hiroh dalam-dalam. Aku tahu, sesuatu yang Hiroh tidak tahu, aku tengah memasuki masa kritis.

blog_hiroh 4Masa kritis adalah sebuah masa di mana kita, siapapun dari kita, tengah dipertanyakan kembali “hendak kemanakah kita melaju?” dan untuk menjawab pertanyaan itu maka aku perlu melihat ke dalam diriku sendiri “siapakah diriku?” artinya ini mengenai jati diriku yang sebenarnya. Aku mendekati Hiroh adalah untuk kepuasan nafsuku saja dan telah kudapatkan itu. Aturannya adalah bahwa aku harus secepatnya membuat rencana untuk meninggalkannya. Pertanyaan yang muncul seharusnya “apa yang harus aku katakan padanya untuk meninggalkannya?” Alih-alih mendapat pertanyaan itu, yang muncul di kepalaku justru pertanyaan lain yang cukup mengejutkan, “kenapa aku masih di sini? Kenapa aku tak segera beranjak pergi?” dan aku segera menyadari jawabannya.

Hari-hari pun berlalu. Selalu saja, pada malah hari, aku sempatkan diriku untuk datang ke pesantren. Aku putuskan untuk datang pada malam hari saja, melewati jam malam. Keuntungan bagi keluarga Hiroh adalah tidak menarik perhatian para santri yang lain. Sementara keuntunganku adalah bahwa kedatanganku pada malam hari tidak menarik perhatian lingkungan. Simbiosis mutualisme. Namun alasan paling mendasar adalah bahwa sebisa mungkin orang tua ku tidak mengetahui hubungan kami. Karena aku yakin mereka tidak akan menyetujuinya. Hiroh berasalah dari keluarga muslim yang taat, sementara keluargaku lebih liberal. Pendidikan terakhir Hiroh hanyalah MTs (setara SMP) sementara keluargaku mengisyaratkan untuk mencari yang paling tidak S1. Aku punya pekerjaan yang bagus dengan jenjang karir yang cerah, sementara ketrampilan Hiroh adalah di bidang keagamaan yang kita tahu cukup sulit untuk mencari makan pada masa-masa sekarang. Dan kutemui diriku terjebak dalam kondisi yang sangat dilematis. Apakah aku harus memilih mengikuti orang tua atau Hiroh padahal benih-benih cinta mulai bersemi di dalam diriku padanya.

Sebagian besar dari diriku lebih memilih keluargaku. Tentu saja begitu karena bagiku keluarga adalah nomer satu. Mereka adalah rumah di mana aku selalu disambut dengan bahagia dari manapun aku pergi. Betapapun beban yang kuderita selama aku dalam perantauan, mereka selalu menginginkan aku untuk kembali. Ya, kadang mereka marah padaku namun pada akhirnya aku mulai mengerti bahwa kemarahan mereka adalah karena cinta. Pada saat aku menghitung lima langkah di depanku, misalnya, mereka telah menghitung seratus langkah di depanku. Itulah yang membuat kami kadang berbeda pendapat. Namun seberapapun berbedanya pendapat kami, seberapapun kami dulu terlihat saling menyakiti sebenarnya itu hanya masalah bahwa kami tidak mampu mengungkapkannya dengan bahasa yang lebih benar; kami tidak bisa mengungkapkan bahwa sesungguhnya kami saling menyayangi. Aku memiliki banyak teman dan mereka kadang menyarankan aku untuk melakukan ini dan itu. Keluargaku pun demikian, sering mereka menyuruhku untuk melakukan ini dan itu. Namun bila kuperhatikan lebih jauh, mereka, teman-temanku, bila menyarankan sesuatu sering kali adalah untuk kepentingan tersembunyi mereka sendiri. Begitu tersembunyinya hingga kadang mereka tidak menyadarinya. Di sisi lain, mereka, keluargaku bila menyuruhku melakukan sesuatu, kini aku percaya, adalah murni untuk kebaikanku sendiri.

Sering kali, bila kami telah selesai bercinta, setelah dihajar beban pekerjaan yang berat aku langsung tertidur. Sementara Hiroh dengan sabar memijit kaki dan tanganku. Pijatan itu sering membangunkanku dan kudapati Hiroh di sampingku. Dengan sabar ia terus berusaha membuatku nyaman. Oh, Hirohku yang baik, kau tidak tahu apa yang ada di dalam kepalaku. Kau tidak mengerti apa yang kumengerti – bahwa detik-detik ini adalah sangat berharga karena kita tengah menuju ke perpisahan kita. Hirohku yang malang tak bergeming dan terus memijatku. Ia tak mendengar apa yang ada di hatiku. Tapi aku bisa melihat itu di matanya; aku melihat harapan. Ia pasti berharap agar suatu hari nanti aku akan datang menjadi suaminya. Aku yakin pasti bahwa dia selalu berdoa untuk kami berdua. Aku melihat harapan di matanya justru di kala aku menyadari kehancuran di hatiku. Ironis sekali.

Hiroh, maafkan aku …

Suatu hari Pak Kyai menemuiku. Dan ia bertanya tentang kelanjutan hubungan kami. Aku sangat bisa mengerti karena memang tidak terlalu baik membiarkan sepasang kekasih berpacaran terlalu lama. Agar tidak berbuat dosa, itu tujuannya. Dosa yang sebenarnya telah kami lakukan. Didera oleh perasaan letih fisik dan pikiran aku mencoba mengulur waktu hingga setelah Lebaran Idul Fitri. Pak Kyai, seperti biasa, manggut-manggut saja. Sampai saat ini aku tidak tahu pasti apa yang ada di kepalanya. Sebagai seorang Kyai yang berpengalaman dalam dunia supernatural dan religi, apa mungkin ia tahu apa yang ada di hatiku? Apa mungkin ia tahu apa yang telah aku dan Hiroh lakukan? Aku tidak tahu. Tapi sejauh ini Pak Kyai tak mengatakan apa-apa. Lalu Pak Kyai tersenyum dan meninggalkan kami berdua. Seperti biasa kami pun bercinta. Dan aku mencoba tidur setelahnya. Namun yang kudapati adalah perasaan begitu gelisah menyerangku hingga aku pun tak bisa tidur nyenyak. Aku rasa Hiroh tahu apa yang aku pikirkan. Ia terlihat sedih namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Malam itu aku pulang lebih cepat dari biasanya.

Sejak malam itu Hiroh berubah. Ada kesedihan di dalam dirinya. Sepertinya ia mulai tahu apa yang aku pikirkan; bahwa hubungan kami tak akan berakhir baik …

Ia sering sms dan bertanya apa jadinya kalau orang tuaku tidak setuju dengan hubungan kami? Ia selalu bertanya pertanyaan yang sama. Sementara aku selalu tidak bisa menjawab pertanyaan yang sama tersebut. Hal itu membuatku marah. Marah pada diriku sendiri hingga aku mulai menjauh. Pada saat itulah muncul nama baru dalam hidupku yaitu Hana ( tentang Hana akan aku ceritakan di sesi lain ). Berikutnya aku lebih dekat pada Hana. Namun pada akhirnya kedekatan itu tidak memperbaiki keadaan sama sekali. Aku percaya bahwa jawaban permasalahanku ini tidak terletak pada sosok Hana yang masih baru ini namun justru terletak dalam diriku sendiri. Dan aku mencoba untuk kembali menghadapkan wajahku pada Hiroh. Lagi pula hatiku pun terus menerus nelangsa menginginkan sosok Hiroh. Apakah ini adalah cinta yang sebenarnya? Aku yakin belum. Aku pernah merasakan cinta yang sebenarnya dan itu tidak seperti ini. Ini baru benih-benihnya, yang bila kusiram terus menerus maka pada suatu saat maka aku akan memetik buah cinta tersebut. Sesuatu yang aku tahu bahwa itu tidak boleh terjadi.

Berita tentang kedekatanku dengan Hiroh ternyata sudah tersebar. Hal itu membuatku menjadi lebih geram namun mencoba mengerti bahwa itu adalah proses yang alami. Akhirnya aku memilih untuk tidak mencari kambing hitam. Fokus! Lalu pada suatu hari aku, entah apa yang kupikirkan saat itu, aku kembali datang ke pesantren dan menemui Hiroh. Dengan pola yang hampir sama aku pun masuk ke kamar pribadi Hiroh. Namun saat berpapasan dan bersalaman dengan Pak Kyai, aku merasakan ada sesuatu dirinya yang berbeda. Sesuatu yang cukup membuat hatiku berdesir gentar. Ada apa? Apa yang ia ketahui?

blog_hiroh 5Malam itu Hiroh memakai baju besar berwarna putih gading dengan jilbab hijau yang sangat indah. Wajahnya yang terlihat cukup layu itu masih bersinar-sinar meskipun tidak sebening dulu saat pertama bertemu. Dulu aku punya keinginan untuk bercinta dengannya saat dia mengenakan baju seperti itu. Namun malam itu Hiroh menolak untuk bercinta. Malam itu pertama kalinya kulihat ia benar-benar menangis di dadaku. Aku yang marah karena hasrat biologis yang tak tersalurkan pun tergetar oleh tangis tersebut. Lalu ia berkata bahwa ia sebenarnya sudah lama ingin menghentikan semua dosa ini namun tiap kali ia melihat wajahku ia merasa iba. Namun kali ini ia harus benar-benar kuat meskipun seluruh tubuhnya menginginkan untuk dijamah. Aku mencoba mengerti; aku telah menariknya dari dunia yang telah memebesarkannya yaitu dunia religi yang kuat dan taat. Namun kemudian aku meninggalkannya. Pada saat itu dia pasti kebingungan sekali karena dunia baru yang ia percayai ternyata telah mengkhianatinya. Dan tak ada dunia lain yang ia kenal kecuali dunianya yang lama; yaitu dunia pesantren dan religi. Maka ia pun pulang ke sana. Dan saat itu aku menemukan dia sebagai Hiroh yang hampir seperti yang dulu lagi – Hirohku yang suci.

Berita tentang kedekatan kami akhirnya sampai juga di keluargaku dan seperti yang kuduga mereka menyatakan “tidak.” Aku mengerti dan aku menerimanya meskipun hati terasa cukup sedih. Mereka pasti berusaha yang terbaik bagiku. Maka aku mulai meninggalkan Hiroh lagi.

Beberapa hari yang lalu Hiroh sms dan mengabarkan bila dia hendak pergi ke luar kota yang cukup jauh guna kembali belajar agama di pesantren di kota tersebut. Ia akan berada di sana selama satu tahun. Aku mendongak ke langit dan berkata ,”Inikah tanda-Mu?” namun langit sepi tak menjawab. Maka malam itu aku menemuinya ( mungkin untuk yang terakhir kalinya ). Kulihat matanya bengkak karena banyak menangis. Tuhan, dosa apa yang telah kuberikan pada Makhluk suci-Mu ini? Keluhku dalam hati. Di kamar ia menunjukan foto tentang teman-temannya. Ia berusaha mengenalkan dirinya padaku ( lagi ). Sebuah hal yang membuatku miris; betapa selama ini aku telah begitu tidak peduli pada orang yang sangat mencintaiku. Kubiarkan ia melakukan yang terbaik baginya untukku dan aku menerimanya. Kutatap wajahnya yang cantik, bermata seperti telaga dan wajah yang bersinar seperti bulan itu dalam-dalam. Hirohku yang malang … desisku dalam hati dan aku tak mampu berpikir apa-apa lagi. Kami bercinta sedikit malam itu, mungkin ada sedikit nafsu di sana namun sebagian besar adalah sebagai ucapan selamat tinggal yang tak terucap.

Pada saat aku hendak pulang, tidak seperti biasanya, Hiroh tak menahanku. Ia tak lagi manja. Kulihat ia menjadi sangat tegar. Kupeluk dirinya dan ia balas memelukku dalam-dalam. Pelukan penuh kasih sayang yang selalu ia berikan namun bagiku itu adalah pelukan pertamaku yang sesungguhnya padanya. Saat aku hendak keluar, kami harus melewati dapur. Ia memanggil namaku, mencium tanganku dan kembali memelukku erat. Kurasakan dadaku bergetar dirajam emosi. Namun aku harus kuat karena kulihat Hirohpun sangat kuat malam itu. Tidak ada air mata yang jatuh sama sekali. Aku yakin ada kesedihan di hati kami masing-masing. Kami tak perlu mengungkapkannya karena kami yakin kami bisa mengerti satu sama lain.

Pagi harinya aku mendapat sms dari Hiroh yang mengatakan ia sedang dalam perjalanan. Aku tidak tahu apa yang harus kuucapkan maka kubalas dengan jawaban prosedural saja, hati-hati di jalan, kataku. Siang harinya ia kembali mengirim kabar bahwa ia telah sampai di tujuan. Pada saat itu bahkan aku lupa membalas smsnya ! Bila kuingat kebodohanku saat itu, hatiku perih ditusuk penyesalan. Bahkan untuk sms terakhirnya pun aku tak membalasnya! Makhluk tak berguna macam apa aku ini !!!

Hirohku yang suci, selamat jalan. Belajarlah dan jadilah manusia yang agung dan mulia. Sampai jumpa satu tahun lagi. Pada saat itu entah apa yang terjadi pada kita berdua, aku tidak tahu … aku benar-benar tidak tahu. Terima kasih atas cintamu padaku. Aku berharap aku bisa membalas cintamu dengan cara yang lebih pantas …

*** Pada saat aku menulis ini aku bisa merasakan dia, Hirohku yang suci, tengah menangis merindukanku di sana.  Bagi siapapun yang membaca tulisan ini dan tergerak hatinya, saya mohon, doakan dia di sana. Doakan agar dia selalu dalam keadaan sehat dan bahagia. Ini adalah permohonan tulus dari orang yang tidak bisa membahagiakan seorang makhluk suci ciptaan-Nya.


Tindakan

Information

5 tanggapan

21 10 2009
indra java

Pertamax….. YES!!!!

21 10 2009
indra java

Chapter I nya sudah, yang sekarang numpang neduh dulu, boleh kan… :grin:

23 10 2009
yoenani

Ente edan, tapi mo gimana lagi dunia dah gila…………. :)

27 10 2009
indra1082

Uedan Tenan, Perawan ketujuh…. :roll:

4 12 2009
Didin Al-Afghany

Maaf..ikut nimbrung

Astagfirulloh

Jika memang itu benar2 terjadi… antum tidak takut akan azab Alloh…?

Rosululloh bersabda;
Barangsiapa meninggalkan sholat 1 kali maka baginya 40 tahun di neraka…
dan barangsiapa melakukan zina 1 kali ia 500 tahun di neraka….

Semua dosa perzinahan yang telah dilakukan tidak akan diampuni oleh Alloh SWT, kecuali dengan menunaikan hukum pidana RANJAM Qs 24:2 Tdk ada alternatif lain…!!

jika hukum di dunia sudah ditunaikan.. dengan benar dan ikhlas semata-ata hanya mengharapkan ampunan Alloh SWT. maka diakhirat ia akan bebas ar siksa neraka…!!

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.