Ipin dan Upin ; Sebuah Ironi

18 02 2010

Pada saat hubungan politik RI-Malaysia memanas, “Ipin & Upin” secara ajaib masuk dan diterima masyarakat kita. Dan kini dia sudah mengalahkan Batman, Superman dll … Malaysia yang selalu kita hujat sebagai pencuri ternyata telah menohok kita dengan sangat keras, bukan dengan umpatan balik tapi dengan sebuah KARYA. Kita pun terdiam, tercengang dan, tentu saja, prihatin.

Lebih memprihatinkan lagi karena ternyata kita tidak hanya terus dibombandir secara sporadis dari produk budaya luar tapi juga dari dalam sistem kita sendiri. Tontonan sinetron yang menjual mimpi dan harapan kosong (yang didominasi oleh wajah-wajah bule), berita kekerasan yang disiarkan pada jam-jam berkumpulnya keluarga dan program-program televisi yang tidak memiliki misi pendidikan sama sekali itu secara terus menerus disuntikan pada kepala masyarakat kita. Dan masyarakat kita, yang kering oleh harapan, itu pun terlena, terhipnotis, tertidur dan, tanpa disadari, terjajah.

Dan kita pun merayakan hari kemerdekaan kita setiap tahun – sering kali dengan gegap gempita – sebuah seremoni kosong.

Kita tidak tahu apa yang mereka, para pendiri bangsa, rasakan. Kuburan mereka tetap dingin. Mereka tidak bangkit dari kubur dan berteriak “merdeka!!” dan angkat senjata lagi. Mereka tak lagi bisa bernyanyi “Indonesia Raya” atau “Jembatan Merah” saat ini. Mereka tetap tertidur dalam tenang karena mereka percaya bahwa generasi baru akan datang; generasi yang lebih kuat, pintar dan berbudaya … generasi kita. Mereka percaya kita bisa berkarya untuk Indonesia raya.

Bisakah kita? Beberapa dari kita menjawab “Bisa”, sebagian menggelengkan kepala dan sebagian yang lain terdiam karena dalam hati mereka tahu, mereka telah melumuri Ibu pertiwi dengan lumpur malu. Kita saling menuding dan menyakiti, dan kita stabil dalam keadaan tidak stabil ini bertahun-tahun lamanya.

Dulu Malaysia belajar mengaspal jalan tol dari kita. India belajar kedokteran dari kita, sekarang mereka menjadi kekuatan masa depan di bidang Kedokteran dan IT. Dan Malaysia? Mereka cukup santun memberi kita hadiah yang bernama “Ipin dan Upin”.

Selesai.


Tindakan

Information

2 tanggapan

18 02 2010
Alusia May

iyaaaa..betul betul betul

18 02 2010
nisa azzah

kamu tdk mengangkat masalah TKW,perbudakan modern,dan kehebatan kita dibidang pertanian kelapa sawit yg kemudian berpindah alih,utang luar negeri..semuanya karena kurangnya CINTA kita pada negeri sendiri…produks, bhs,budaya,alam,.sibuk berkutat pd kekuasaan, uang..maling teriak maling..DIRI KITA SENDIRI.iyakan skolo..!!!!

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.