<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sendhekolo&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://sendhekolo.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sendhekolo.wordpress.com</link>
	<description>Saat Iblis dan Malaikat bertemu</description>
	<lastBuildDate>Thu, 18 Feb 2010 05:35:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sendhekolo.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sendhekolo&#039;s Blog</title>
		<link>http://sendhekolo.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sendhekolo.wordpress.com/osd.xml" title="Sendhekolo&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sendhekolo.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ipin dan Upin ; Sebuah Ironi</title>
		<link>http://sendhekolo.wordpress.com/2010/02/18/ipin-dan-upin-sebuah-ironi/</link>
		<comments>http://sendhekolo.wordpress.com/2010/02/18/ipin-dan-upin-sebuah-ironi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 05:30:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sendhekolo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan di Ujung Kertas]]></category>
		<category><![CDATA[india]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[ipin]]></category>
		<category><![CDATA[ironi]]></category>
		<category><![CDATA[malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[upin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sendhekolo.wordpress.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Pada saat hubungan politik RI-Malaysia memanas, &#8220;Ipin &#38; Upin&#8221; secara ajaib masuk dan diterima masyarakat kita. Dan kini dia sudah mengalahkan Batman, Superman dll &#8230; Malaysia yang selalu kita hujat sebagai pencuri ternyata telah menohok kita dengan sangat keras, bukan dengan umpatan balik tapi dengan sebuah KARYA. Kita pun terdiam, tercengang dan, tentu saja, prihatin. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sendhekolo.wordpress.com&amp;blog=9974537&amp;post=92&amp;subd=sendhekolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sendhekolo.files.wordpress.com/2010/02/thumb_upinipin_poster.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-93" title="Ipin dan Upin" src="http://sendhekolo.files.wordpress.com/2010/02/thumb_upinipin_poster.jpg?w=174&#038;h=237" alt="" width="174" height="237" /></a>Pada saat hubungan politik RI-Malaysia memanas, &#8220;Ipin &amp; Upin&#8221; secara ajaib masuk dan diterima masyarakat kita. Dan kini dia sudah mengalahkan Batman, Superman dll &#8230; Malaysia yang selalu kita hujat sebagai pencuri ternyata telah menohok kita dengan sangat keras, bukan dengan umpatan balik tapi dengan sebuah KARYA. Kita pun terdiam, tercengang dan, tentu saja, prihatin.</p>
<p>Lebih memprihatinkan lagi karena ternyata kita tidak hanya terus dibombandir secara sporadis dari produk budaya luar tapi juga dari dalam sistem kita sendiri. Tontonan sinetron yang menjual mimpi dan harapan kosong (yang didominasi oleh wajah-wajah bule), berita kekerasan yang disiarkan pada jam-jam berkumpulnya keluarga dan program-program televisi yang tidak memiliki misi pendidikan sama sekali itu secara terus menerus disuntikan pada kepala masyarakat kita. Dan masyarakat kita, yang kering oleh harapan, itu pun terlena, terhipnotis, tertidur dan, tanpa disadari, terjajah.</p>
<p>Dan kita pun merayakan hari kemerdekaan kita setiap tahun &#8211; sering kali dengan gegap gempita &#8211; sebuah seremoni kosong.</p>
<p>Kita tidak tahu apa yang mereka, para pendiri bangsa, rasakan. Kuburan mereka tetap dingin. Mereka tidak bangkit dari kubur dan berteriak &#8220;merdeka!!&#8221; dan angkat senjata lagi. Mereka tak lagi bisa bernyanyi &#8220;Indonesia Raya&#8221; atau &#8220;Jembatan Merah&#8221; saat ini. Mereka tetap tertidur dalam tenang karena mereka percaya bahwa generasi baru akan datang; generasi yang lebih kuat, pintar dan berbudaya &#8230; generasi kita. Mereka percaya kita bisa berkarya untuk Indonesia raya.</p>
<p>Bisakah kita? Beberapa dari kita menjawab &#8220;Bisa&#8221;, sebagian menggelengkan kepala dan sebagian yang lain terdiam karena dalam hati mereka tahu, mereka telah melumuri Ibu pertiwi dengan lumpur malu. Kita saling menuding dan menyakiti, dan kita stabil dalam keadaan tidak stabil ini bertahun-tahun lamanya.</p>
<p>Dulu Malaysia belajar mengaspal jalan tol dari kita. India belajar kedokteran dari kita, sekarang mereka menjadi kekuatan masa depan di bidang Kedokteran dan IT. Dan Malaysia? Mereka cukup santun memberi kita hadiah yang bernama &#8220;Ipin dan Upin&#8221;.</p>
<p>Selesai.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sendhekolo.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sendhekolo.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sendhekolo.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sendhekolo.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sendhekolo.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sendhekolo.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sendhekolo.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sendhekolo.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sendhekolo.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sendhekolo.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sendhekolo.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sendhekolo.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sendhekolo.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sendhekolo.wordpress.com/92/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sendhekolo.wordpress.com&amp;blog=9974537&amp;post=92&amp;subd=sendhekolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sendhekolo.wordpress.com/2010/02/18/ipin-dan-upin-sebuah-ironi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bcbd9317a54441994d7a6e95d12c804b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sendhekolo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sendhekolo.files.wordpress.com/2010/02/thumb_upinipin_poster.jpg?w=212" medium="image">
			<media:title type="html">Ipin dan Upin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mimpi</title>
		<link>http://sendhekolo.wordpress.com/2010/02/15/mimpi/</link>
		<comments>http://sendhekolo.wordpress.com/2010/02/15/mimpi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 07:05:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sendhekolo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan di Ujung Kertas]]></category>
		<category><![CDATA[kuda]]></category>
		<category><![CDATA[menara]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[pasukan]]></category>
		<category><![CDATA[pengorbanan]]></category>
		<category><![CDATA[purba]]></category>
		<category><![CDATA[rindu]]></category>
		<category><![CDATA[selamat]]></category>
		<category><![CDATA[tahta]]></category>
		<category><![CDATA[tinggal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sendhekolo.wordpress.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Aku bermimpi; aku melihatmu. Di puncak tertinggi sebuah menara kita berada, bersembunyi dan mungkin sedikit bercinta. Kita tak mendengar apapun kecuali deru angin. Kita tak melihat apapun kecuali awan. Sebuah keterasingan yang purba, dingin dan sunyi. Dan aku melihatmu, berbaring di sisiku. Aksara cahaya matahari sore menggaris di setiap lekuk tubuhmu yang tak berbaju itu. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sendhekolo.wordpress.com&amp;blog=9974537&amp;post=88&amp;subd=sendhekolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sendhekolo.files.wordpress.com/2010/02/tears.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-89" title="tears" src="http://sendhekolo.files.wordpress.com/2010/02/tears.jpg?w=134&#038;h=128" alt="" width="134" height="128" /></a>Aku bermimpi; aku melihatmu. Di puncak tertinggi sebuah menara kita berada, bersembunyi dan mungkin sedikit bercinta. Kita tak mendengar apapun kecuali deru angin. Kita tak melihat apapun kecuali awan. Sebuah keterasingan yang purba, dingin dan sunyi.</p>
<p>Dan aku melihatmu, berbaring di sisiku. Aksara cahaya matahari sore menggaris di setiap lekuk tubuhmu yang tak berbaju itu. Kau terdiam seperti aku yang juga terdiam. Bukan suara deru angin awang-awang yang terdengar, tapi jauh ke dalam diri kita, kita mendengar detak jantung masing-masing. Detak yang semakin cepat juga semakin keras, ketakutan yang merasuk hingga sumsum tulang kita.</p>
<p>Lirih aku bertanya, “Bila telah ada 100 bahaya maka telah kurasakan 100 rasa takut. Apa lagi yang kutakutkan kini?”</p>
<p>Sekilas terdengar kau menghela nafas, berat. Aku tahu apa yang ada di dalam pikiranmu. Nun jauh di sana, di ujung batas negeri, barigade pasukan yang berbaris seperti sebuah defile merengsek masuk. Suara derap kaki mereka lah yang menggetarkan jantungku. Mereka datang bukan untuk air dan tanah. Mereka datang dengan racun dan dendam untuk sebuah harga diri buta; sebuah tahta yang terusik.</p>
<p>Ya, dalam mimpiku itu kurasakan angin yang masuk melalui jendela membawa berita duka. Suara tangis mereka yang seperti koor membuat suasana semakin muram. Mereka terus menangisi kami hingga tak tersisa waktu untuk bercerita. Seperti anak perawan yang kehilangan jejaka, mereka bersimpuh. Air mata mereka yang seperti nira hitam membuatku kembali bertanya, ”apa sebenarnya yang kutakutkan?”</p>
<p>”Tak ada yang perlu kau takutkan,” bisikmu di telingaku. Suaramu setengah merintih bercampur dengan mantera. Kulihat kau menidurkanku. Kau menutup kelopak mataku dan meniupkan mimpi-mimpi ke dalamnya. Dan kau tutup juga telingaku, karena kau tak ingin aku tahu sesuatu yang kau tahu; mereka tengah mendekat. Mereka datang untuk membawamu pergi.</p>
<p>Sejenak kau menatap wajahku dengan tatapan penuh keharuan dan kerinduan. Dengan langkah berat kau beranjak meninggalkanku. Para perawan angin sontak menjerit menahanmu pergi. Kau menempelkan jari telunjuk di bibirmu. Jari itu bergetar dirajam emosi. Mereka, para perawan angin itu, mendongak ke atas dengan suara bergetar-menghujat para dewa. Tapi, bahkan para dewa pun tak kuasa menahan tekadmu. Kau yang hanya manusia dan diciptakan tidak abadi akhirnya melakukan sesuatu yang mereka, para kaum abadi, tak mampu lakukan. Sesuatu yang tidak cukup kuat dibanding kuasa langit namun jauh lebih mendasar. Sebuah kekuatan yang ada di dasar hati seseorang yang tengah jatuh cinta &#8211; sebuah pengorbanan.</p>
<p>Di atas jendela itu kau berdiri. Wajahmu sayu dan sinar kehidupan di matamu lemah meredup. Sementara di kaki menara, ribuan pasukan berkuda bergerak seperti air bah, menggerus semua yang ada. Pilar-pilar menara tergetar oleh derap ladam kuda mereka. Sejenak kau termenung, menikmati setiap detik terakhir kebersamaan kita. Dan kau berharap semua itu tidak terjadi&#8230;</p>
<p>Aku terbangun saat hatiku mendengar hatimu merintih lirih setelah lelah memberontak. Kau yang telah meniupkan mimpi dalam tidurku dan menutup telingaku ternyata tak mampu menutup hatiku. Maka saat hatimu menangis, bahkan dalam keadaan paruh delusi pun, hatiku menyadarinya. Dan kudapati kau di atas jendela. Ada sejenak waktu kau menoleh padaku. Matamu berkata, ’&#8230; &#8230; ’</p>
<p>Lalu kau menjatuhkan diri.</p>
<p>Aku berteriak, namun apalah suara membawamu kembali. Tubuhmu melayang seperti burung alap-alap sebelum akhirnya terbenam dalam lautan pasukan berkuda itu. Mereka yang didera haus berkepanjangan segera menangkapmu.</p>
<p>Mereka membawamu pergi jauh. Jauh dari semua yang telah kita bangun dengan tangan-tangan kasar kita. Jauh dari mimpi dan semua cita-cita kosong menjelang tidur; tentang dunia yang berbatas rumah para pertapa, tentang gurun Najaf dan tragedi Karbala dan tentang dunia di mana tak ada para pencuri. Mereka membawamu dan kutahu, sebagaimana kau tahu, kita tak akan pernah bertemu lagi. Kelak pada suatu saat kita akan saling mengingat namun tak lebih sebagai sebuah kenangan. Kau tak akan pernah kembali. Dunia seakan berhenti berputar dan angin pun enggan untuk bertiup. Pada saat itu waktu pun berhenti untuk berduka.</p>
<p>Kini kutahu apa yang ada di matamu. Sebuah kalimat yang tak kuasa kau ucapkan. Sebuah kalimat yang kau sembunyikan dalam matra-mantramu. Sebuah kalimat yang menjawab ketakutanku. Di atas menara yang sunyi sendiri itu akhirnya kusadari bahwa apa yang kutakutkan adalah “sebuah selamat tinggal yang kekal.”</p>
<p>Dan pagi itu aku terbangun dengan nafas seperti dipacu kusir gila. Haus mencekik tenggorokanku dan memaksaku untuk bangun saat kusadari sakit yang begitu kuat meninju kepalaku. Kudapati aku masih di kamar yang sama. Ya, kamar yang sama. Aku bisa mengenalinya dari aroma pengap menyengat yang berasal dari gantungan baju yang telah beberapa minggu tak kucuci. Sinar matahari pagi merayap mukaku dan menyadarkan bahwa dunia belum berakhir. Itu adalah hari yang sama dengan hari-hari sebelumnya. Lalu kurasakan hawa dingin meniup lembut wajahku. Ah, aku tahu siapa dia. Perawan angin dari jaman purba itu kembali datang. Dengan mata bengkak setelah lelah menangis ia tidur dan memelukku dari belakang. Pelukan itu dingin dan dipenuhi rasa kesunyian. Pelukan yang telah lama kumiliki. Kututup mata ini, sekedar untuk bersembunyi dari dunia luar dan kusadari kemudian bahwa tak ada yang berubah . Tidak ada, kecuali satu; pada hari itu kusadari kau bukan milikku lagi&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sendhekolo.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sendhekolo.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sendhekolo.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sendhekolo.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sendhekolo.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sendhekolo.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sendhekolo.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sendhekolo.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sendhekolo.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sendhekolo.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sendhekolo.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sendhekolo.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sendhekolo.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sendhekolo.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sendhekolo.wordpress.com&amp;blog=9974537&amp;post=88&amp;subd=sendhekolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sendhekolo.wordpress.com/2010/02/15/mimpi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bcbd9317a54441994d7a6e95d12c804b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sendhekolo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sendhekolo.files.wordpress.com/2010/02/tears.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">tears</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Hiroh, Perawan ke Tujuh &#8211; Chapter III</title>
		<link>http://sendhekolo.wordpress.com/2009/10/17/tentang-hiroh-chapter-iii/</link>
		<comments>http://sendhekolo.wordpress.com/2009/10/17/tentang-hiroh-chapter-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 02:36:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sendhekolo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Petualangan]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Bunga]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Gadis]]></category>
		<category><![CDATA[Jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[Kyai]]></category>
		<category><![CDATA[Libido]]></category>
		<category><![CDATA[Nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Santri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sendhekolo.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Kembali ke Tentang Hiroh, Perawan ke Tujuh &#8211; Chapter II &#8230; Tentu saja aku tak pernah jujur pada Hiroh yang sebenarnya. Bahwa dia adalah perawan ke tujuh yang pernah aku ambil. Bila hal itu aku lakukan maka aku akan mempermalukan dunia para pemburu wanita. Pada saat itu aku memandang Hiroh memang hanya pelampiasan nafsu biologisku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sendhekolo.wordpress.com&amp;blog=9974537&amp;post=21&amp;subd=sendhekolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kembali ke <a href="http://sendhekolo.wordpress.com/2009/10/17/tentang-hiroh-chapter-ii/">Tentang Hiroh, Perawan ke Tujuh &#8211; Chapter II</a></p>
<p>&#8230;</p>
<p>Tentu saja aku tak pernah jujur pada Hiroh yang sebenarnya. Bahwa dia adalah perawan ke tujuh yang pernah aku ambil. Bila hal itu aku lakukan maka aku akan mempermalukan dunia para pemburu wanita. Pada saat itu aku memandang Hiroh memang hanya pelampiasan nafsu biologisku saja. Dan tampaknya dia juga menikmati pelayanan yang aku berikan padanya. Ya, aku sangat mengerti. Dari umurnya yang masih muda dia memang sedang dalam kondisi paling siap untuk bereproduksi. Seluruh sistem tubuhnya memang dirancang untuk tujuan tersebut. Bahkan sering kali aku yang kualahan menghadapinya.  Aku selalu berusaha mengimbanginya sekuatku. Aku juga harus pintar-pintar mengatur waktu dan energiku karena pada malam harinya tak jarang Siska (tentang Siska akan aku ceritakan pada sesi lainnya) meminta untuk ketemuan yang artinya harus bercinta dengannya juga.  Sepulang dari rumah Hiroh yang sudah cukup malam, aku hanya punya sedikit waktu untuk menyegarkan diri untuk bertempuran berikutnya.</p>
<p>Namun semenjak aku berhasil mendapatkan Hiroh sepenuhnya, aku merasakan alam dalam hatiku berubah. Seakan-akan aku diliputi  oleh kebisuan yang teramat pekat dan hari-hari berubah menjadi kelabu. Ada sebuah kesedihan yang mulai muncul. Sebagai orang yang suka menganalisa keadaan, aku segera terkesiap dengan perubahan ini. Tanda ini apa maksudnya? Dan jawabanku tertuju padanya. Sering kali aku melihat Hiroh dalam-dalam. Aku tahu, sesuatu yang Hiroh tidak tahu, aku tengah memasuki masa kritis.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-38" title="blog_hiroh 4" src="http://sendhekolo.files.wordpress.com/2009/10/blog_hiroh-4.jpg?w=271&#038;h=216" alt="blog_hiroh 4" width="271" height="216" />Masa kritis adalah sebuah masa di mana kita, siapapun dari kita, tengah dipertanyakan kembali “hendak kemanakah kita melaju?” dan untuk menjawab pertanyaan itu maka aku perlu melihat ke dalam diriku sendiri “siapakah diriku?” artinya ini mengenai jati diriku yang sebenarnya. Aku mendekati Hiroh adalah untuk kepuasan nafsuku saja dan telah kudapatkan itu. Aturannya adalah bahwa aku harus secepatnya membuat rencana untuk meninggalkannya. Pertanyaan yang muncul seharusnya “apa yang harus aku katakan padanya untuk meninggalkannya?” Alih-alih mendapat pertanyaan itu, yang muncul di kepalaku justru pertanyaan lain yang cukup mengejutkan, “kenapa aku masih di sini? Kenapa aku tak segera beranjak pergi?” dan aku segera menyadari jawabannya.</p>
<p>Hari-hari pun berlalu. Selalu saja, pada malah hari, aku sempatkan diriku untuk datang ke pesantren. Aku putuskan untuk datang pada malam hari saja, melewati jam malam. Keuntungan bagi keluarga Hiroh adalah tidak menarik perhatian para santri yang lain. Sementara keuntunganku adalah bahwa kedatanganku pada malam hari tidak menarik perhatian lingkungan. Simbiosis mutualisme. Namun alasan paling mendasar adalah bahwa sebisa mungkin orang tua ku tidak mengetahui hubungan kami. Karena aku yakin mereka tidak akan menyetujuinya. Hiroh berasalah dari keluarga muslim yang taat, sementara keluargaku lebih liberal. Pendidikan terakhir Hiroh hanyalah MTs (setara SMP) sementara keluargaku mengisyaratkan untuk mencari yang paling tidak S1. Aku punya pekerjaan yang bagus dengan jenjang karir yang cerah, sementara ketrampilan Hiroh adalah di bidang keagamaan yang kita tahu cukup sulit untuk mencari makan pada masa-masa sekarang. Dan kutemui diriku terjebak dalam kondisi yang sangat dilematis. Apakah aku harus memilih mengikuti orang tua atau Hiroh padahal benih-benih cinta mulai bersemi di dalam diriku padanya.<span id="more-21"></span></p>
<p>Sebagian besar dari diriku lebih memilih keluargaku. Tentu saja begitu karena bagiku keluarga adalah nomer satu. Mereka adalah rumah di mana aku selalu disambut dengan bahagia dari manapun aku pergi. Betapapun beban yang kuderita selama aku dalam perantauan, mereka selalu menginginkan aku untuk kembali. Ya, kadang mereka marah padaku namun pada akhirnya aku mulai mengerti bahwa kemarahan mereka adalah karena cinta. Pada saat aku menghitung lima langkah di depanku, misalnya, mereka telah menghitung seratus langkah di depanku. Itulah yang membuat kami kadang berbeda pendapat. Namun seberapapun berbedanya pendapat kami, seberapapun kami dulu terlihat saling menyakiti sebenarnya itu hanya masalah bahwa kami tidak mampu mengungkapkannya dengan bahasa yang lebih benar; kami tidak bisa mengungkapkan bahwa sesungguhnya kami saling menyayangi. Aku memiliki banyak teman dan mereka kadang menyarankan aku untuk melakukan ini dan itu. Keluargaku pun demikian, sering mereka menyuruhku untuk melakukan ini dan itu. Namun bila kuperhatikan lebih jauh, mereka, teman-temanku, bila menyarankan sesuatu sering kali adalah untuk kepentingan tersembunyi mereka sendiri. Begitu tersembunyinya hingga kadang mereka tidak menyadarinya. Di sisi lain, mereka, keluargaku bila menyuruhku melakukan sesuatu, kini aku percaya, adalah murni untuk kebaikanku sendiri.</p>
<p>Sering kali, bila kami telah selesai bercinta, setelah dihajar beban pekerjaan yang berat aku langsung tertidur. Sementara Hiroh dengan sabar memijit kaki dan tanganku. Pijatan itu sering membangunkanku dan kudapati Hiroh di sampingku. Dengan sabar ia terus berusaha membuatku nyaman. Oh, Hirohku yang baik, kau tidak tahu apa yang ada di dalam kepalaku. Kau tidak mengerti apa yang kumengerti – bahwa detik-detik ini adalah sangat berharga karena kita tengah menuju ke perpisahan kita. Hirohku yang malang tak bergeming dan terus memijatku. Ia tak mendengar apa yang ada di hatiku. Tapi aku bisa melihat itu di matanya; aku melihat harapan. Ia pasti berharap agar suatu hari nanti aku akan datang menjadi suaminya. Aku yakin pasti bahwa dia selalu berdoa untuk kami berdua. Aku melihat harapan di matanya justru di kala aku menyadari kehancuran di hatiku. Ironis sekali.</p>
<blockquote><p>Hiroh, maafkan aku &#8230;</p></blockquote>
<p>Suatu hari Pak Kyai menemuiku. Dan ia bertanya tentang kelanjutan hubungan kami. Aku sangat bisa mengerti karena memang tidak terlalu baik membiarkan sepasang kekasih berpacaran terlalu lama. Agar tidak berbuat dosa, itu tujuannya. Dosa yang sebenarnya telah kami lakukan. Didera oleh perasaan letih fisik dan pikiran aku mencoba mengulur waktu hingga setelah Lebaran Idul Fitri. Pak Kyai, seperti biasa, manggut-manggut saja. Sampai saat ini aku tidak tahu pasti apa yang ada di kepalanya. Sebagai seorang Kyai yang berpengalaman dalam dunia supernatural dan religi, apa mungkin ia tahu apa yang ada di hatiku? Apa mungkin ia tahu apa yang telah aku dan Hiroh lakukan? Aku tidak tahu. Tapi sejauh ini Pak Kyai tak mengatakan apa-apa. Lalu Pak Kyai tersenyum dan meninggalkan kami berdua. Seperti biasa kami pun bercinta. Dan aku mencoba tidur setelahnya. Namun yang kudapati adalah perasaan begitu gelisah menyerangku hingga aku pun tak bisa tidur nyenyak. Aku rasa Hiroh tahu apa yang aku pikirkan. Ia terlihat sedih namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Malam itu aku pulang lebih cepat dari biasanya.</p>
<p>Sejak malam itu Hiroh berubah. Ada kesedihan di dalam dirinya. Sepertinya ia mulai tahu apa yang aku pikirkan; bahwa hubungan kami tak akan berakhir baik &#8230;</p>
<p>Ia sering sms dan bertanya apa jadinya kalau orang tuaku tidak setuju dengan hubungan kami? Ia selalu bertanya pertanyaan yang sama. Sementara aku selalu tidak bisa menjawab pertanyaan yang sama tersebut. Hal itu membuatku marah. Marah pada diriku sendiri hingga aku mulai menjauh. Pada saat itulah muncul nama baru dalam hidupku yaitu Hana ( tentang Hana akan aku ceritakan di sesi lain ). Berikutnya aku lebih dekat pada Hana. Namun pada akhirnya kedekatan itu tidak memperbaiki keadaan sama sekali. Aku percaya bahwa jawaban permasalahanku ini tidak terletak pada sosok Hana yang masih baru ini namun justru terletak dalam diriku sendiri. Dan aku mencoba untuk kembali menghadapkan wajahku pada Hiroh. Lagi pula hatiku pun terus menerus nelangsa menginginkan sosok Hiroh. Apakah ini adalah cinta yang sebenarnya? Aku yakin belum. Aku pernah merasakan cinta yang sebenarnya dan itu tidak seperti ini. Ini baru benih-benihnya, yang bila kusiram terus menerus maka pada suatu saat maka aku akan memetik buah cinta tersebut. Sesuatu yang aku tahu bahwa itu tidak boleh terjadi.</p>
<p>Berita tentang kedekatanku dengan Hiroh ternyata sudah tersebar. Hal itu membuatku menjadi lebih geram namun mencoba mengerti bahwa itu adalah proses yang alami. Akhirnya aku memilih untuk tidak mencari kambing hitam. Fokus! Lalu pada suatu hari aku, entah apa yang kupikirkan saat itu, aku kembali datang ke pesantren dan menemui Hiroh. Dengan pola yang hampir sama aku pun masuk ke kamar pribadi Hiroh. Namun saat berpapasan dan bersalaman dengan Pak Kyai, aku merasakan ada sesuatu dirinya yang berbeda. Sesuatu yang cukup membuat hatiku berdesir gentar. Ada apa? Apa yang ia ketahui?</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-39" title="blog_hiroh 5" src="http://sendhekolo.files.wordpress.com/2009/10/blog_hiroh-51.jpg?w=180&#038;h=271" alt="blog_hiroh 5" width="180" height="271" />Malam itu Hiroh memakai baju besar berwarna putih gading dengan jilbab hijau yang sangat indah. Wajahnya yang terlihat cukup layu itu masih bersinar-sinar meskipun tidak sebening dulu saat pertama bertemu. Dulu aku punya keinginan untuk bercinta dengannya saat dia mengenakan baju seperti itu. Namun malam itu Hiroh menolak untuk bercinta. Malam itu pertama kalinya kulihat ia benar-benar menangis di dadaku. Aku yang marah karena hasrat biologis yang tak tersalurkan pun tergetar oleh tangis tersebut. Lalu ia berkata bahwa ia sebenarnya sudah lama ingin menghentikan semua dosa ini namun tiap kali ia melihat wajahku ia merasa iba. Namun kali ini ia harus benar-benar kuat meskipun seluruh tubuhnya menginginkan untuk dijamah. Aku mencoba mengerti; aku telah menariknya dari dunia yang telah memebesarkannya yaitu dunia religi yang kuat dan taat. Namun kemudian aku meninggalkannya. Pada saat itu dia pasti kebingungan sekali karena dunia baru yang ia percayai ternyata telah mengkhianatinya. Dan tak ada dunia lain yang ia kenal kecuali dunianya yang lama; yaitu dunia pesantren dan religi. Maka ia pun pulang ke sana. Dan saat itu aku menemukan dia sebagai Hiroh yang hampir seperti yang dulu lagi – Hirohku yang suci.</p>
<p>Berita tentang kedekatan kami akhirnya sampai juga di keluargaku dan seperti yang kuduga mereka menyatakan “tidak.” Aku mengerti dan aku menerimanya meskipun hati terasa cukup sedih. Mereka pasti berusaha yang terbaik bagiku. Maka aku mulai meninggalkan Hiroh lagi.</p>
<p>Beberapa hari yang lalu Hiroh sms dan mengabarkan bila dia hendak pergi ke luar kota yang cukup jauh guna kembali belajar agama di pesantren di kota tersebut. Ia akan berada di sana selama satu tahun. Aku mendongak ke langit dan berkata ,”Inikah tanda-Mu?” namun langit sepi tak menjawab. Maka malam itu aku menemuinya ( mungkin untuk yang terakhir kalinya ). Kulihat matanya bengkak karena banyak menangis. Tuhan, dosa apa yang telah kuberikan pada Makhluk suci-Mu ini? Keluhku dalam hati. Di kamar ia menunjukan foto tentang teman-temannya. Ia berusaha mengenalkan dirinya padaku ( lagi ). Sebuah hal yang membuatku miris; betapa selama ini aku telah begitu tidak peduli pada orang yang sangat mencintaiku. Kubiarkan ia melakukan yang terbaik baginya untukku dan aku menerimanya. Kutatap wajahnya yang cantik, bermata seperti telaga dan wajah yang bersinar seperti bulan itu dalam-dalam. Hirohku yang malang &#8230; desisku dalam hati dan aku tak mampu berpikir apa-apa lagi. Kami bercinta sedikit malam itu, mungkin ada sedikit nafsu di sana namun sebagian besar adalah sebagai ucapan selamat tinggal yang tak terucap.</p>
<blockquote><p>Pada saat aku hendak pulang, tidak seperti biasanya, Hiroh tak menahanku. Ia tak lagi manja. Kulihat ia menjadi sangat tegar. Kupeluk dirinya dan ia balas memelukku dalam-dalam. Pelukan penuh kasih sayang yang selalu ia berikan namun bagiku itu adalah pelukan pertamaku yang sesungguhnya padanya. Saat aku hendak keluar, kami harus melewati dapur. Ia memanggil namaku, mencium tanganku dan kembali memelukku erat. Kurasakan dadaku bergetar dirajam emosi. Namun aku harus kuat karena kulihat Hirohpun sangat kuat malam itu. Tidak ada air mata yang jatuh sama sekali. Aku yakin ada kesedihan di hati kami masing-masing. Kami tak perlu mengungkapkannya karena kami yakin kami bisa mengerti satu sama lain.</p></blockquote>
<p>Pagi harinya aku mendapat sms dari Hiroh yang mengatakan ia sedang dalam perjalanan. Aku tidak tahu apa yang harus kuucapkan maka kubalas dengan jawaban prosedural saja, hati-hati di jalan, kataku. Siang harinya ia kembali mengirim kabar bahwa ia telah sampai di tujuan. Pada saat itu bahkan aku lupa membalas smsnya ! Bila kuingat kebodohanku saat itu, hatiku perih ditusuk penyesalan. Bahkan untuk sms terakhirnya pun aku tak membalasnya! Makhluk tak berguna macam apa aku ini !!!</p>
<p>Hirohku yang suci, selamat jalan. Belajarlah dan jadilah manusia yang agung dan mulia. Sampai jumpa satu tahun lagi. Pada saat itu entah apa yang terjadi pada kita berdua, aku tidak tahu &#8230; aku benar-benar tidak tahu. Terima kasih atas cintamu padaku. Aku berharap aku bisa membalas cintamu dengan cara yang lebih pantas &#8230;</p>
<p>*** Pada saat aku menulis ini aku bisa merasakan dia, Hirohku yang suci, tengah menangis merindukanku di sana.  Bagi siapapun yang membaca tulisan ini dan tergerak hatinya, saya mohon, doakan dia di sana. Doakan agar dia selalu dalam keadaan sehat dan bahagia. Ini adalah permohonan tulus dari orang yang tidak bisa membahagiakan seorang makhluk suci ciptaan-Nya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sendhekolo.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sendhekolo.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sendhekolo.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sendhekolo.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sendhekolo.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sendhekolo.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sendhekolo.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sendhekolo.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sendhekolo.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sendhekolo.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sendhekolo.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sendhekolo.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sendhekolo.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sendhekolo.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sendhekolo.wordpress.com&amp;blog=9974537&amp;post=21&amp;subd=sendhekolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sendhekolo.wordpress.com/2009/10/17/tentang-hiroh-chapter-iii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bcbd9317a54441994d7a6e95d12c804b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sendhekolo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sendhekolo.files.wordpress.com/2009/10/blog_hiroh-4.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">blog_hiroh 4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sendhekolo.files.wordpress.com/2009/10/blog_hiroh-51.jpg?w=200" medium="image">
			<media:title type="html">blog_hiroh 5</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Hiroh, Perawan ke Tujuh &#8211; Chapter II</title>
		<link>http://sendhekolo.wordpress.com/2009/10/17/tentang-hiroh-chapter-ii/</link>
		<comments>http://sendhekolo.wordpress.com/2009/10/17/tentang-hiroh-chapter-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 02:33:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sendhekolo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Petualangan]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Bunga]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Gadis]]></category>
		<category><![CDATA[Jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[Kyai]]></category>
		<category><![CDATA[Libido]]></category>
		<category><![CDATA[Nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Santri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sendhekolo.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[&#8230; Kembali ke Tentang Hiroh, Perawan ke Tujuh &#8211; Chapter I Dan tinggal kami berdua, aku dan Hiroh, di kamar itu. Keheranan dan kebingunganku segera lenyap saat Hiroh kembali menggenggam tanganku. Kulihat dia tersenyum bahagia sekali. Dia tidak tahu kalau senyum itu memicu reaksi kimia di dalam sistem tubuhku; libido! “Apa Mas benar-benar mau jadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sendhekolo.wordpress.com&amp;blog=9974537&amp;post=19&amp;subd=sendhekolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8230; Kembali ke <a href="http://sendhekolo.wordpress.com/2009/10/17/tentang-hiroh-chapter-i/#more-13">Tentang Hiroh, Perawan ke Tujuh &#8211; Chapter I</a></p>
<p>Dan tinggal kami berdua, aku dan Hiroh, di kamar itu. Keheranan dan kebingunganku segera lenyap saat Hiroh kembali menggenggam tanganku. Kulihat dia tersenyum bahagia sekali. Dia tidak tahu kalau senyum itu memicu reaksi kimia di dalam sistem tubuhku; libido! “Apa Mas benar-benar mau jadi suamiku?” Hiroh bertanya. Lalu aku jawab, dengan otak dikendalikan libido, sekenanya, “aku ingin siapapun yang jadi istriku harus masih perawan tulen! Mana mungkin aku tahu kau masih perawan atau bukan kalau tidak dites dulu.” Hiroh mendelik kaget, “tidak ! tidak! Aku hanya akan menyerahkan keperawananku dengan cara yang halal!” Lalu terjadilah adu argument dengannya. Cukup lama dan rumit, tapi aku yang dulunya aktif sebagai remaja mesjid tentu saja dapat dengan mudah mematahkan logika-logikanya. Plus lagi aku sudah banyak makan asam garam sebagai dalam dunia perburuan cewek seperti itu. Gampang saja aku meng-infiltrasi keyakinanku di atas keyakinan miliknya. Begitu dasar logika seorang cewek sudah kudapat, maka sesungguhnya aku telah mendapatkan cewek itu seutuhnya. Hanya masalah waktu saja sampai aku dapat menerobos bunga miliknya.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-36" title="K112625TITIAN 3" src="http://sendhekolo.files.wordpress.com/2009/10/blog_hiroh-3.jpg?w=207&#038;h=146" alt="K112625TITIAN 3" width="207" height="146" />Benar saja, di akhir perdebatan halus kami, akhirnya Hiroh menggandeng tanganku dan tak dinyana-nyana mengarahkannya ke payudaranya! <em>Got you!</em> Aku bersorak dalam hati. Lalu dengan halus aku meremasnya. Payudaranya memang masih keras dan sangat nikmat diremas seperti itu. Aku bisa merasakan bahwa berlahan Hirohpun mulai bisa menikmatinya namun aktifitas itu harus aku lakukan terputus-putus karena pintu kamar masih terbuka dan hanya dititipi selembar tirai saja. Kegiatan yang terpututs-putus itu ternyata membuat Hiroh gemas. Maka ia berdiri dan&#8230;ehem, menutup dan menguncinya! Ibarat <em>traffic light</em>, tidak ada lampu kuning atau merah; hijau semuanya!! Aku mulai masuk ke dalam bra miliknya dan mulai meremasnya dengan tangan kosong. Tidak ingat benar, tapi sepertinya malam itu juga Hiroh dengan berani menaikkan bajunya dan melepaskan bra di hadapanku. Payudara yang tak pernah tersentuh sama sekali itu malam itu adalah milikku sepenuhnya!</p>
<blockquote><p>Waktu pun berjalan. Setiap kali kami bertemu aku selalu langsung dipersilahkan masuk ke dalam kamar pribadi Hiroh. Tunggulah beberapa saat sampai minuman disuguhkan lalu Pak Kyai masuk untuk bersalaman. Beberapa menit kemudian Istrinya membukat tirai dan tersenyum sambil mempersilahkanku. Terakhir Hiroh akan segera menutup dan menguncinya rapat-rapat. Selalu berjalan dengan pola seperti itu. Bila keadaan sudah terpenuhi seperti itu maka privasi adalah milik kami berdua. Dengan halus namun rakus aku menjelajahi tubuhnya. Seperti Colombus yang menjelajahi samudra untuk menemukan dunia baru, aku pun menjelajahi tiap jengkal kulitnya untuk menemukan sumber dunia baru yang hitam dan belum terjamah. Bila dulu Coombus masih belum tahu pasti di mana dunia baru itu, aku malah sudah tahu persis ke mana tujuanku berlabuh. Namun betapa kagetnya aku saat aku sampai du dunia baruku yang awalnya kukira ditumbuhi belantara lebat dan hitam, yang kudapati adalah sebuah dunia baru yang gundul, merekah merah dan beraroma harum sabun! Dan aku pun terjatuh dalam kegilaan. Akal sehatku pergi entah kemana. Malam ini kuberi Hiroh sesuatu yang awalnya ia pikir jauh berada di atas awan; kuberi dia surga. Seperti pasukan pemandu sebelum datangnya pasukan inti, lidahku menjelejahi tiap jengkal dunia baru itu sebelum lingga miliku.</p></blockquote>
<p>Beberapa pertemuan berikutnya kuberi ia pelayanan yang sama dan terus meningkat. Kuajari dia teknik bercinta hingga pelan namun pasti Hiroh pun mulai menjadi ahli. Ia tahu titik-titik kesukaanku. Lidahnya menjalar dari puting dadaku hingga penisku. Di sana ia tak ragu lagi untuk membenamkan penisku ke dalam mulutnya. Dengan gerakan halus dan begitu mengesankan ia memberi pelayanan oral yang sangat hebat. Ia menuruti semua keinginanku hingga saat aku minta agar aku ejekulasi di mulutnya pun ia tak menolaknya. Kini ia tak sungkan lagi untuk membuka bajuku juga bajunya sendiri. Ia pun tak sungkan lagi memintaku untuk melakukan apa yang ia inginkan aku lakukan terhadap bagian-bagian tubuhnya. Seringkali saat dalam keadaan santai dan tengah bercanda, ia tertawa-tawa sambil mencubit penisku. Aku pun membalas dengan meremas payudaranya dan bagian vaginanya.<span id="more-19"></span></p>
<p>Aku merasa sudah saatnya masuk ke level berikutnya. Aku mulai hendak memasukkan linggaku. Awalnya ia meberontak karena takut hamil. Namun sekali lagi kupatahkan logika itu. Setelah ku ulur waktuku dan terus memberinya kenikmatan sambung raga itu, akhirnya ia pun luluh. Inilah kekuatan terbesarku yang paling ditakuti oleh semua wanita-wanita yang kutaklukan; kesabaranku. Dengan sabar dan terus menerus, berlahan-lahan Hiroh keluar dari dunianya dan masuk ke dalam duniaku. Aku mulai dengan halus mencoba memasukan lingga milikku. Hiroh pun menyerah dan pasrah. Satu-satunya penghalangku hanya rasa sakit yang ia derita. Namun aku mengerti, aku pun tidak memaksanya.</p>
<p>Bulan Ramadhan pun tiba. Hiroh menyarankan aku datang setelah waktu shalat Tarawih selesai. Itu yang berarti melanggar jam malam yang ditentukan di pesantrennya. Diam-diam aku mengeluh. Perasaan menyesal mulai masuk ke dalam hatiku, betapa aku telah menariknya, Hiroh yang anggun dan suci ke dalam duniaku yang gelisah dan panas. Namun aku segera menampik perasaan itu. Hanya tinggal beberapa langkah lagi sampai aku mencapai tujuanku. Fokus!</p>
<p>Selama bulan Ramadhan itu kami pun terus melakukan hubungan bercinta tersebut. Selama itu pula aku terus mencoba melengkapi persetubuhan kami. Hingga pada suatu hari, Hiroh mengirim pesan agar aku datang sore saja saat Shalat Tarawih masih berlangsung. Meskipun agak ragu tapi aku menurut saja. Sesampainya di pesantren, aku harus menunggu para makmum melakukan sujud dan secepat kilat aku masuk ke dalam kamar Hiroh (Kamar Hiroh berada persis di samping aula mengaji para santri yang juga digunakan untuk shalat berjamaah ). Lalu kami pun mulai bercinta lagi dan kali ini Hiroh sepertinya sudah siap. Maka dengan mantap aku masukkan penisku ke dalam rongga kewanitaanya. Hiroh berteriak tertahan dan secara reflek ia menjauh namun aku tahan. Aku peluk dia dalam-dalam dan menyalurkan rasa sayang melaluinya. Di dekat telingaku Hiroh membaca ayat-ayat suci yang ia percaya bisa melindunginya dari kekuatan jahat. Lama-lama Hiroh pun mulai tenang. Kemudian, dengan lembut dan pelan, aku mengulanginya lagi&#8230;dan lagi&#8230;dan lagi.</p>
<p>Di sela-sela gumam para santri yang tengah Shalat Tarawih di luar kamar, malam itu Hiroh jadi milikku seutuhnya&#8230;</p>
<p>Bersambung ke <a href="http://sendhekolo.wordpress.com/2009/10/17/tentang-hiroh-chapter-iii/">Tentang Hiroh, Perawan ke Tujuh &#8211; chapter III</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sendhekolo.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sendhekolo.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sendhekolo.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sendhekolo.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sendhekolo.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sendhekolo.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sendhekolo.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sendhekolo.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sendhekolo.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sendhekolo.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sendhekolo.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sendhekolo.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sendhekolo.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sendhekolo.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sendhekolo.wordpress.com&amp;blog=9974537&amp;post=19&amp;subd=sendhekolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sendhekolo.wordpress.com/2009/10/17/tentang-hiroh-chapter-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bcbd9317a54441994d7a6e95d12c804b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sendhekolo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sendhekolo.files.wordpress.com/2009/10/blog_hiroh-3.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">K112625TITIAN 3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Hiroh, Perawan Ke Tujuh &#8211; Chapter I</title>
		<link>http://sendhekolo.wordpress.com/2009/10/17/tentang-hiroh-chapter-i/</link>
		<comments>http://sendhekolo.wordpress.com/2009/10/17/tentang-hiroh-chapter-i/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 02:24:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sendhekolo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Petualangan]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Bunga]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Gadis]]></category>
		<category><![CDATA[Jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[Kyai]]></category>
		<category><![CDATA[Libido]]></category>
		<category><![CDATA[Nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Santri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sendhekolo.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan yang akan kau baca di bawah ini akan menyangkut sebuah identitas agama namun aku tekankan bahwa ini sama sekali bukan penghinaan terhadap agama. Agama tersebut sangat baik dan merupakan Rahmat Alam Semesta namun kami, para pelaku dan penganutnyalah yang bersalah. Cerita ini adalah  yang benar-benar terjadi dan aku menceritakan ini bukan untuk bualan semata. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sendhekolo.wordpress.com&amp;blog=9974537&amp;post=13&amp;subd=sendhekolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-medium wp-image-26" title="blog_hiroh 5" src="http://sendhekolo.files.wordpress.com/2009/10/blog_hiroh-5.jpg?w=94&#038;h=109" alt="blog_hiroh 5" width="94" height="109" />Tulisan yang akan kau baca di bawah ini akan menyangkut sebuah identitas agama namun aku tekankan bahwa ini sama sekali bukan penghinaan terhadap agama. Agama tersebut sangat baik dan merupakan Rahmat Alam Semesta namun kami, para pelaku dan penganutnyalah yang bersalah. Cerita ini adalah  yang benar-benar terjadi dan aku menceritakan ini bukan untuk bualan semata. </strong><strong>Semua penilaian akan pengalamanku ini aku serahkan padamu semua karena aku tak lagi peduli.</strong></p>
<p><strong>= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =<br />
</strong></p>
<p>Berhati-hatilah dengan apa yang kau inginkan karena itu sangat mungkin akan terjadi. Mungkin itu adalah pelajaran yang paling bisa kupetik dari petualangan bercintaku yang satu ini. Ini adalah kisah nyata tentang perjalanan hidupku. Tidak ada kebohongan di dalamnya meskipun identitas dari semua pelakunya aku sembunyikan.</p>
<p>Dulu, beberapa tahun yang lalu, saat aku masih begitu bangga dengan koleksi wanita-wanita hasil buruan libidoku, aku merasa ada yang kurang di sana. Di antara para wanita itu tidak ada satu pun yang bisa mewakili pencapaian tertinggiku. Perburuan libido adalah sebuah dosa dan untuk mendapatkan pencapaian tertinggi maka aku perlu seseorang yang perawan murni yang benar-benar suci. Aku tidak ingat benar di mana aku menulis keinginanku itu tapi aku yakin aku pernah menulisnya. Di kini, di waktu yang tak terlalu jauh dari sekarang, keinginan itu terwujud.</p>
<blockquote><p>Namanya adalah Hiroh. Seorang perawan murni, baru berumur 23 tahun dan cantik luar biasa. Dan dia adalah seorang santri tulen. Anak seorang kyai terkenal di daerahku. Dia dididik di lingkungan muslim yang ketat dan taat. Keluarganya tak pernah memasukan dia ke pendidikan negeri dan lebih memilih Madrasah yang bernuansa Islam. Selama hidupnya ia habiskan di pondok pesantren termasuk juga pondok pesantren milik ayahnya. Dalam sehari semalam shalatnya bisa lebih dari empat puluh kali. Puasa, wirid dan mengaji adalah makanan sehari-harinya. Bahkan menyentuh kulit seorang yang bukan muhrimnya adalah hal terlarang baginya. Namun toh, ia takluk di hadapanku. Aku adalah lelaki yang mengambil keprawanannya. Lebih buruk lagi, ia adalah gadis ke tujuh yang keperawanannya aku ambil &#8230;</p></blockquote>
<p>Pertemuan kami diawali saat kami bertemu di toko milik keluargaku. Saat itu dia hendak membelikan sepatu baru untuk adiknya. Karena pada saat itu pegawaiku tengah tidak berada di tempat maka terpaksa aku yang melayani. Saat itulah aku melihat sosoknya, sosok yang begitu indah; cantik dalam balutan jilbab yang rapi. Matanya bening dengan garis mata yang hitam dan bibirnya merah sempurna seperti buah cherry. Wajahnya memancarkan sinar yang begitu anggun. Ada sebuah kedamaian yang menyelimuti hatiku saat aku melihat sinar wajah itu. Dan pada saat mata kami bertemu aku tahu ada ruang di dalam hatinya khusus buatku.<strong><span id="more-13"></span></strong></p>
<p>Pertemuan kedua terjadi beberapa minggu kemudian. Saat itu aku tahu ia bernama Hiroh anak seorang Kyai yang disegani di daerahku. Seorang teman masa kecilku mengingatkan padaku untuk menjaga jarak dengannya, bukan karena <em>background</em> keluarganya, tapi karena ternyata ia pernah mengidap TBC dan itu sangat menular. Tapi percayalah, pada saat kau melihatnya, kau pun akan merasakan apa yang aku rasakan. Perasaan ragu-ragu itu sirna dan digantikan perasaan yang lain. Bukan perasaan percaya namun lebih mendekati perasaan nekat. Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkannya, begitu pikirku saat itu. Setelah itu kami pun berkenalan dan saling bertukan nomer hp.</p>
<p>Semenjak pertama melihat matanya aku tahu Hiroh pun sebenarnya tertarik padaku. Karena dasar tersebut maka komunikasi kami berjalan sangat lancar bahkan sangat berani. Aku memanggil dia “istriku” dan dia memanggilku “suamiku”. Lalu, masih melalui sms, aku menembaknya dan dia pun setuju jadi pacarku. Aku tak ingat benar ia pacarku yang nomer berapa karena sudah terlalu banyak yang aku jadikan pacar sebelumnya meskipun pacar yang benar-benar aku cintai hanya beberapa saja. Kebanyakan dari pacar-pacarku yang sebelumnya hanyalah pelampiasan libidoku saja.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-31" title="blog_hiroh 2" src="http://sendhekolo.files.wordpress.com/2009/10/blog_hiroh-2.jpg?w=243&#038;h=243" alt="blog_hiroh 2" width="243" height="243" />Beberapa hari kemudian aku bertandang ke rumahnya. Aku ingat benar saat itu lampu mati ( thanks PLN sudah melancarkan jalanku-ternyata ada gunanya juga kau sering mati ). Sesampainya di rumah Hiroh aku baru tahu kalau rumah dia ternyata adalah sebuah pesantren. Itu adalah pertama kalinya dalam hidupku aku masuk ke lingkungan pesantren. Orang-orang di daerahku kebanyakan gentar masuk ke pesantren yang memiliki reputasi penuh wibawa ini namun yang timbul di hatiku adalah perasaan penuh gairah akan sebuah pengalaman baru. Saat itu hari sudah malam, kegiatan mengaji sudah selesai. Yang terdengar hanya sunyi dan aura mistis mengelilingiku. Aku duduk di atas karpet, karena aku tak melihat ada set kursi tamu di sana, ditemani Hiroh di sampingku dan lampu minyak yang redup di antara kami berdua. Sambil terus memperhatikan sekelilingku aku berpikir, “Oh, ini kan yang namanya Pesantren. Asyik juga.” Jujur aku menyukai suasana itu karena mengingatkan pada suasana surau di desaku saat masa kecilku. Saat itu aku dan teman-teman sepermainan masa kecilku sering tidur di surau tersebut. Suasananya yang gelap, dingin, sunyi dan mistis tidak membuatku takut tapi justru memicu kenangan masa kecilku. Ada perasaan haru yang mendalam di hatiku saat itu. Surau tersebut kini telah menjadi mesjid besar dan hingar bingar oleh banyak kepentingan.</p>
<p>Ternyata orang tuanya menyambutku dengan sangat gembira. Setelah sebentar berbasa-basi bapaknya meninggalkan kami berdua, sesuatu yang sebenarnya tidak boleh dilakukan karena malanggar aturan agama-membiarkan seseorang berduaan dengan yang bukan mukhrimnya. Lalu di dalam kegelapan itu aku rasakan tangan Hiroh memegang tanganku. Entah mantra apa yang ada di tangan itu namun pada saat itu aku merasakan sebuah keindahan luar biasa. Ada perasaan bau harum menyeruak ke dalam pembau dalam hatiku. Pada saat itulah aku mulai ingin mencumbunya. Namun itu sangatlah tidak mungin. Akal sehatku seakan menguap hingga aku memberanikan diri mengusulkan untuk menikah siri – tujuanku satu; ingin meniduri Hiroh secepat mungkin! Tiba-tiba lampu menyala ( PLN sialan! ) hingga kami segera melepaskan gandengan tangan kami. Karena waktu telah beranjak malam, akhirnya aku pun pamit pulang tanpa bisa mencumbunya sama sekali.</p>
<p>Sesampainya di rumah akal sehatku mulai kembali dan aku memaki dalam hati, “<em>fuck! What have I done!</em> Aku melamarnya untuk nikah siri?! <em>Fuck!</em>”  Tapi mulutku adalah harimauku, kata yang telah terucap tak akan bisa ditarik lagi. Hiroh menceritakan tentang usulan nikah siri tersebut yang ternyata disambut gembira keluarganya. Tapi dengan dalih untuk mengejar karir akhirnya aku bisa mementahkan harapan mereka ( yang juga adalah kebodohanku ). Syukurlah akhirnya mereka bisa menerimanya. Namun tetap saja kejadian itu memberi keyakinan pada keluarga Hiroh akan kemantapanku pada anak mereka.</p>
<p>Pertemuan berikutnya adalah pertemuan yang sungguh mengejutkan. Dengan alasan bahwa ruangan yang sebelumnya aku dan Hiroh pakai untuk bertemu ternyata adalah ruang para santri mengaji maka aku dipersilahkan oleh Hiroh dan keluarganya untuk masuk ke kamar pribadi Hiroh! Glek! Yang benar saja! Namun meskipun dengan banyak ketidakmengertian di kepalaku aku menurut saja. Lalu aku dan Hiroh berdua berada di kamarnya yang bersebelahan persis dengan aula mengaji para santri. Perasaanku tak menentu saat itu. Aku merasakan akan adanya sesuatu yang akan terjadi. Benar saja, beberapa menit kemudian bapaknya masuk dan segera duduk di hadapanku. Lalu ia bertanya padaku, “Apakan Anak mau benar-benar dengan anak saya?” Wek! Apa lagi ini? Pikirku. Pertanyaan macam apa ini? Aku benar-benar tak mengerti dengan apa yang Pak Kyai tanyakan.  Di sela-sela kebingunganku aku bisa merasakan bahwa aku tidak mungkin menjawab “tidak” makan aku jawab saja, “iya” meskipun tidak sekaku itu. Yaa, sedikit berdiplomasi lah; panjang lebar namun tidak jelas, itulah diplomasi. Bapak Kyai manggut-manggut saja. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya namun beberapa saat kemudian ia meninggalkan kamar kami sambil tersenyum dan berkata, “iya, silahkan diteruskan.” Lalu Pak Kyai menghilang di balik tirai.</p>
<p>Bersambung ke <a href="http://sendhekolo.wordpress.com/2009/10/17/tentang-hiroh-chapter-ii/">Tentang Hiroh, Perawan ke Tujuh &#8211; Chapter II</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sendhekolo.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sendhekolo.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sendhekolo.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sendhekolo.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sendhekolo.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sendhekolo.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sendhekolo.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sendhekolo.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sendhekolo.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sendhekolo.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sendhekolo.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sendhekolo.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sendhekolo.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sendhekolo.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sendhekolo.wordpress.com&amp;blog=9974537&amp;post=13&amp;subd=sendhekolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sendhekolo.wordpress.com/2009/10/17/tentang-hiroh-chapter-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bcbd9317a54441994d7a6e95d12c804b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sendhekolo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sendhekolo.files.wordpress.com/2009/10/blog_hiroh-5.jpg?w=200" medium="image">
			<media:title type="html">blog_hiroh 5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sendhekolo.files.wordpress.com/2009/10/blog_hiroh-2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">blog_hiroh 2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Siska</title>
		<link>http://sendhekolo.wordpress.com/2009/10/17/tentang-siska/</link>
		<comments>http://sendhekolo.wordpress.com/2009/10/17/tentang-siska/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 01:42:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sendhekolo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Petualangan]]></category>
		<category><![CDATA[Bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Gempa]]></category>
		<category><![CDATA[Libido]]></category>
		<category><![CDATA[Nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Perpisahan]]></category>
		<category><![CDATA[Selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tasik]]></category>
		<category><![CDATA[Tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sendhekolo.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan yang akan kau baca ini adalah salah satu babak kehidupan dalam diriku. Identitas para pelaku sengaja aku sembunyikan / samarkan agar tidak kehilangan nilai objektifitasnya. Cerita ini adalah cerita nyata yang benar-benar terjadi dan aku menceritakan ini bukan untuk bualan semata. Semua penilaian akan pengalamanku ini aku serahkan padamu semua karena aku tak lagi peduli.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sendhekolo.wordpress.com&amp;blog=9974537&amp;post=3&amp;subd=sendhekolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tulisan yang akan kau baca ini adalah salah satu babak kehidupan dalam diriku. Identitas para pelaku sengaja aku sembunyikan / samarkan agar tidak kehilangan nilai objektifitasnya. Cerita ini adalah cerita nyata yang benar-benar terjadi dan aku menceritakan ini bukan untuk bualan semata. Semua penilaian akan pengalamanku ini aku serahkan padamu semua karena aku tak lagi peduli.</strong></p>
<p><strong>= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =<br />
</strong></p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-7" title="blog-siska" src="http://sendhekolo.files.wordpress.com/2009/10/blog-siska.jpg?w=207&#038;h=300" alt="blog-siska" width="207" height="300" />Baru saja aku menerima sms dari, sebut saja, Siska. Dia adalah seorang ibu rumah tangga yang ditinggal suaminya bekerja di luar kota. Dia cantik dan memiliki tubuh yang sintal. Sebenarnya dia masih terbilang cukup muda meskipun telah memiliki tiga anak. Anak pertama bahkan sudah kelas tiga SMA. Dia memang menikah di usia yang cukup muda. Kalau tidak salah tujuh belas atau delapan belas tahun. Aku tidak ingat pasti.</p>
<p>Dia adalah selingkuhanku. Kami telah berhubungan mungkin lebih dari satu tahun terakhir ini. Mungkin karena ditinggal suaminya cukup lama ( Suaminya bekerja di luar kota ) hingga ia melakukannya; perselingkuhan denganku ini. Dengan kondisinya yang aku ceritakan di atas, tidak satu atau dua orang yang mengajaknya selingkuh. Bahkan aku dengar dari dia sendiri, salah satu om ku juga salah satunya namun ia kukuh menolaknya. Pada dasarnya Siska adalah wanita yang sangat soleh dan taat beragama. Perselingkuhan baginya adalah sebuah aib dan pantangan besar. Namun entah mengapa ia luluh di hadapanku.</p>
<p>Pada saat pertama bertemu pun aku bahkan hampir tidak melihatnya. Bagiku ia tidaklah penting, hanya satu di anata banyak orang lain, itu saja. Namun pada malam itu, malam pernikahan kakakku, aku melihatnya dengan mata yang berbeda. Siska yang tengah membantu masak di tempatku di mataku terlihat begitu menarik dengan tonjolan-tonjolan tubuhnya yang seakan melambai-lambai padaku untuk menikmatinya. Dan aku bergerak, perburuan pun dimulai. Aku tidak membutuhkan waktu lama untuk menaklukkannya. Bahkan terbilang cukup mudah. Tidak ada kesan sulit sama sekali.</p>
<p>Sms-sms dan rayuan gombal pun aku kirimkan hingga pada suatu malam, hampir pukul dua belas malam, aku memberanikan diri untuk ketemuan. Gayung bersambut, ia meng-iya-kannya. Dengan langkah mengendap-endap aku berjalan ke rumahnya yang memang hanya berjarak beberapa ratus meter saja. Suasana tempat kami memang sepi bila malam tiba. Aku ingat betul suara detak jantungku yang hampir meledak saat itu karena diliputi perasaan was-was namun juga kegembiraan yang teramat sangat. Tapi toh semuanya berjalan aman. Aku sampai juga di rumahnya. Suasana rumah Siska pun sepi, anak-anaknya sudah tidur. Kami berbincang-bincang dengan suara berbisik-bisik sebagai formalitas saja karena tak sampai lima menit kemudian kami mulai berciuman. Siska membalas ciumanku dengan sangat antusias. Lampu telah menjadi hijau, pikirku, aku pun menariknya ke salah satu kamar yang kosong. Siska menurut saja. Kemudian kami melanjutkan aktifitas kami hanya saja kini aku mulai berani memasukan tubuhku ke dalam baju dan celananya. Siska menurut saja, bahkan saat aku buka baju dan bra nya pun ia tak melawan. Hanya saat aku hendak mencopot celana dan CD nya ia sedikit menolak. Bukan masalah besar, dengan sedikit waktu terulur dan menambah kualitas cumbuanku aku pun berhasil menelanjanginya bulat. Aku tak bisa melihat tubuhnya dengan jelas karena lampu ruangan memang dimatikan. Tapi tak apalah, orang barat bilang <em>we don’t need a weatherman to know where the wind blows</em>, sebagaimana kita tak membutuhkan ahli cuaca untuk menentukan ke mana arah angin pergi begitu pula aku tak membutuhkan cahaya untuk menentukan arah tembakkan peluruku ini. Lagi pula, Siska bukanlah wanita pertama yang aku tiduri. Ia nomer berapa? Aku malah tidak ingat sama sekali.</p>
<p><span id="more-3"></span></p>
<p>Dan jadilah malam itu sebagai awal babak perselingkuhan kami. Karena takut anak-anak terbangun aku pun tak berlama-lama di rumah Siska. Saat pulang pun aku harus berhati-hati (mengendap-endap) karena rumah Siska berada di tengah perkampungan. Begitu aku sampai di ajalan besar segera saja aku mengambil langkah kilat. Sesampainya di halaman rumah dan memastikan tidak ada yang melihatku baru aku bisa bernafas lega. Dengan sebatang rokok di bibirku aku membayangkan kegilaan yang barusan aku lakukan. “Gila !! Aku berselingkuh dengan istri orang !!” makiku dalam hati. Makian yang berisi nada senang dan kemenangan.</p>
<p>Dan malam itu kurasakan tubuh Siska memang nikmat sekali.</p>
<p>Dan perselingkuhan pun terus berlanjut. Kami selalu melakukannya di malam hari saat semua orang tengah tertidur. Well, tidak semua orang si, mungkin saja salah satu tetangganya juga sedang bercinta seperti yang sedang aku dan Siska lakukan malam itu. Kami lebih sering melakukannya dalam ruangan gelap meskipun beberapa kali aku memaksanya untuk menyalakan lampu. Tubuh Siska sebenarnya tak seindah yang aku bayangkan, payudaranya sudah kempes. Ya maklumlah, ia telah memberi makan pada tiga payi sebelumnya plus bayi besar yaitu suaminya dan sekarang aku. So, wajarlah bila kondisinya seperti itu. Aku selalu senang menelanjanginya bulat-bulat. Ada perasaan seru dan kebanggaan tersendiri bila melakukannya. Beberapa kali ada pertanyaan terbesir di kepalaku saat aku tengah menggauli Siska, apa yang sedang suaminya impikan sekarang saat di sini, jauh dari sisinya, istrinya aku gagahi? Bukan pertanyaan miris, tapi lebih pada penasaran. Perasaan ingin tahu. Itu saja, karena toh aku juga tak menyesal menggagahi Siska seperti itu.</p>
<p>Semakin lama Siska semakin manja padaku. Sepertinya perasaan cinta yang sebenarnya mulai tumbuh di hatinya. Sementara bagiku, jujur, dia hanyalah pelampiasan libidoku saja. Tapi karena dia membutuhkan cinta, maka aku pun bertingkah seakan-akan aku mencintainya. Sebagai balas budi atas persembahan tubuhnya padaku, sesuatu yang aku inginkan, meskipun aku yakin aku jarang memberinya orgasme. Dia memberiku vagina, aku memberinya cinta; sebuah simbiosis mutualisme.</p>
<p>Sejak awal sebenarnya ia selalui dihantui perasaan takut. Takut bila perselingkuhan kami terbongkar. Dia merasa takut tapi tidak menyesal. Dia pun mengatakan sendiri padaku bila sampai suaminya tahu ia pasti akan mengatakan yang sebenarnya, karena ia mencintaiku. Ia tidak menyesal. Ia hanya takut, takut bila nanti saat perselingkuhan ini terbongkar maka lingkungan sosial akan menggunjingnya. Tapi perasaan takut itu selalu bias bila malam datang, dingin menusuk tulang dan dia membutuhkan seorang lelaki di sampingnya. Lelaki yang melindunginya dan mendengar keluh kesahnya. Sesuatu yang tak ia dapatkan dari suaminya.</p>
<p>Sebenarnya bercinta dengan Siska lama-lama tak lagi memuaskanku. Selain tubuhnya yang tak lagi segar, aksi ranjangnya juga tidak hebat. Itu-itu saja. Ciuman, buka baju, main payudara, masukin dan keluar. Selesai. Tidak ada enam sembilan, tidak ada permainan anal tidak ada yang lain. Itu-itu saja. Tapi bercinta dengan Siska yang notabane adalah istri orang, ibu dari tiga anak dan memiliki rumah yang harus kudatangi dengan langkah seperti maling memang memberikan sensasi lain. Perasaan mendebarkan penuh petualangan. Perlu diketahui bahwa kamar yang sering kami pakai untuk bercinta terletak bersebalahan persis dengan kamar anak-anak Siska hingga kami sering menahan suara dan nafas kami. Hal itu cukup membuatku tidak nyaman dan ternyata Siska juga merasakan hal yang sama. Oleh karena itu sering kali Siska menitipkan anak-anaknya di tempat orang tuanya bila malamnya kami berencana untuk bertemu. Bila hal itu terlaksana maka malah harinya kami benar-benar seperti pengantin baru.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-11" title="blog-siska 2" src="http://sendhekolo.files.wordpress.com/2009/10/blog-siska-2.jpg?w=209&#038;h=261" alt="blog-siska 2" width="209" height="261" />Hal yang cukup menyenangkan dari Siska adalah bahwa dia ternyata juga memiliki <em>sense of adventure </em>(dalam hal ini adalah petualangan bercinta tentunya). Pernah suatu kali, saat libido kami sama-sama tinggi dan semua kamar di rumahnya terpakai, kami melakukannya di dapur yang kotor  sambil berdiri. Datang, cium-cium, sedot-sedot susu, sek esek-esek cerot dan pulang. Pernah juga kami harus melakukannya di kebun belakang di bawah jemuran baju karena di dalam rumah ada keponakan suami Siska yang datang berkunjung. Pada saat itu Siska bahkan hanya mengenakan kain jarik dan jaket tanpa pakai pakaian dalam. Kami bercinta di alam bebas di bawah langit malam. Tidak seromantis yang dibayangkan sebenarnya. Yang ada justru perasaan was-was dan terburu-buru. Tapi bercinta dengan darah digenjot seperti itu malah memberi nuansa yang benar-benar berbeda. Pada kesempatan yang lain ia juga menyuruh kakak suaminya yang datang berkunjung untuk tidur di tempat saudara yang lain karena malamnya kami berencana bertemu. Dan malam itu pun kami bercinta hebat. Padahal rumah saudara yang ditempati kakak suami Siska itu adalah tetangga persis rumah Siska, bahkan kami bisa mendengan suara batuknya dari kamar kami. Kami tertawa cekikikan dengan tubuh masih telanjang bulat setelah selesai bercinta.</p>
<p>Waktu pun berlanjut. Aku bertemu dengan seorang perawan tetangga desaku. Seorang santri cantik anak Pak Kyai pengelola pondok pesantren terkenal di daerahku. Sebut saja namanya Hiroh. (tentang Hiroh akan aku ceritakan di sesi lainnya). Aku mulai dekat dengan Hiroh ini. Ditambah lagi aku ditugaskan di daerah lain yang kemudian membuat hubunganku dan Siska menjadi renggang.  Frekwensi pertemuan kami pun menurun meskipun selalu aku sempatkan untuk melakukan pertemuan malam dengannya.</p>
<p>Beberapa saat yang lalu kota Tasik, di mana suaminya berada, terkena gempa. Ia dan kedua anaknya (anak pertamanya ikut suami) berangkat menyusul ke Tasik. Ia tinggal cukup lama di sana hingga selesai liburan Lebaran Idul Fitri. Pada saat itu pikiranku banyak tersita oleh pekerjaan dan masalahku dengan Hiroh, si santri, hingga aku tidak terlalu memikirkan tentang Siska. Di tambah lagi masuknya pemain baru dalam petualangan cintaku, seorang guru smk bernama Hana (tentang Hana akan aku ceritakan di sesi lainnya). Perhatianku benar-benar teralihkan oleh sosok Siska ini.</p>
<p>Dua minggu yang lalu Siska pulang dari Tasik. Aku langsung memintanya untuk ketemuan tapi keluarganya tengah dilanda masalah besar hingga kami batal untuk bertemu. Kesempatan bertemu justru datang dua hari yang lalu. Pada saat itu sebenarnya aku tengah dalam keadaan sakit karena beban berat pekerjaan di kantor. Namun aku berusaha memenuhi keinginannya. Malam itu pun kami bercinta sekali lagi. Setelah itu aku tertidur di pelukannya. Di sela-sela mataku yang terkatup rapat hatiku bisa merasakannya; ada sesuatu yang tak lagi sama. Seberapapun Siska memelukku dekat tapi hati kami telah terpisah jauh. Tengah malam buta aku pamit pulang. Aku kembali tertidur dan paginya aku harus kembali ke kantor. Aku tak ingat benar apa yang aku mimpikan malam itu&#8230;</p>
<p>Beberapa saat yang lalu Siska sms dan memintaku untuk menghentikan semua perselingkuhan ini. Aku tidak keberatan sebenarnya karena dari awal hubungan ini memang tak seharusnya terjadi. Kami berdua tahu hubungan ini tidak memiliki masa depan sama sekali. Tidak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya ada sedikit rasa kehilangan di hatiku. Namun biarlah yang pergi biarlah pergi. Sebuah babak kehidupan telah selesai aku lewati dan aku harus siap untuk menyongsong babak kehidupanku yang baru; yang lebih seru, lebih mendebarkan dan penuh petualangan.</p>
<p>Perpisahanku dengan Siska tidak terlalu dalam melukai hatiku karena aku tahu pasti ia bisa bertahan. Karena ia masih memiliki seorang lelaki yang secara syah menikahinya. Dia adalah suaminya. Meskipun mereka berjauhan namun biarlah mereka sendiri yang mengaturnya karena mereka sendiri yang lebih tahu tentang mereka dari pada aku.</p>
<p>Siska, terima kasih. Bairpun kata orang kita adalah pendosa, namun bagiku kau adalah warna yang melabur dalam pelangi kehidupanku &#8230; bertahanlah kau di sana.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sendhekolo.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sendhekolo.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sendhekolo.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sendhekolo.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sendhekolo.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sendhekolo.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sendhekolo.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sendhekolo.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sendhekolo.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sendhekolo.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sendhekolo.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sendhekolo.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sendhekolo.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sendhekolo.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sendhekolo.wordpress.com&amp;blog=9974537&amp;post=3&amp;subd=sendhekolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sendhekolo.wordpress.com/2009/10/17/tentang-siska/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bcbd9317a54441994d7a6e95d12c804b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sendhekolo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sendhekolo.files.wordpress.com/2009/10/blog-siska.jpg?w=207" medium="image">
			<media:title type="html">blog-siska</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sendhekolo.files.wordpress.com/2009/10/blog-siska-2.jpg?w=240" medium="image">
			<media:title type="html">blog-siska 2</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
